KLIK gambar untuk menutup Iklan

Showing posts with label reviewjurnal. Show all posts
Showing posts with label reviewjurnal. Show all posts

Thursday, May 19, 2016

AUDITING :REVIEW ARTIKEL (ECONOMIC DETERMINANTS OF AUDIT COMMITTEE INDEPENDENCE}



REVIEW ARTIKEL:
ECONOMIC DETERMINANTS OF AUDIT COMMITTEE INDEPENDENCE
 


1.    Judul
Economic Determinants of Audit Committe Independence                                
2.    Penulis
April Klein
3.    Ruang Lingkup Penelitian
       Menguji hubungan antara independensi komite audit memberikan pengaruh pada faktor penentu dalam indepedensi dewan komite audit (ukuran dewan dan indepedensi dewan, permintaan atas independensi komite audit, kerugian yang beruntun, ukuran perusahaan, permintaan kreditur, CEO dalam compensation committee dan penggantian mekanisme pengawas)
4.    Motivasi penelitian
       Dalam rangka meningkatkan keberhasilan komite audit perusahaan dalam pengawasan proses pelaporan keuangan  SEC, NASDAQ dan NYSE merubah persyaratan pendaftaran bagi perusahaan-perusahaan besar di US sehingga dengan standar yang baru, perusahaan harus mempertahankan komite audit dengan paling sedikit tiga pimpinan perusahaan di dalamnya, “dimana ketiganya harus tidak memiliki hubungan dengan perusahaan sehingga tidak  mempengaruhi independensi mereka terhadap manajemen  dan perusahaan”.  Persyaratan ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana SEC akan mengijinkan perusahaan untuk mencoba pilihan tersebut.  Hal tersebut memotivasi peneliti untuk menyediakan pengetahuan dengan menguji determinan ekonomi di belakang perbedaan dalam independensi komite audit dengan sampel lebih dari 400 perusahaan perdagangan besar Amerika Serikat yang go public selama tahun 1991-1993
5. Kajian Literatur               
Komite Audit
Peranan Komite Audit sebagai Pengawas Proses Pelaporan Keuangan Perusahaan dalam hukum negara, dewan direktur dapat melakukan pekerjaan mereka melalui dewan penuh atau mendelegasikan kewenangan mereka kepada komite kerja yang bertanggungjawab kepada dewan tersebut. Komite audit bertindak atas nama dewan direktur dan bertanggungjawab atas kesalahan dalam proses pelaporan keuangan perusahaan. Sejalan dengan Blue Ribbon Committee Report dan dengan studi sebelumnya (e.g., Carcello and Neal 2000), peneliti mengasumsikan bahwa anggota-anggota komite audit yang independen/yang berdiri sendiri terhadap manajemen merupakan pengawas terbaik dari proses akuntansi keuangan perusahaan. Keuntungan dari pengawasan yang efektif adalah mendapatkan laporan keuangan yang transparan, pasar perdagangan aktif, serta kemampuan untuk menggunakan angka-angka akuntansi keuangan yang seimbang sebagai masukan dalam perjanjian-perjanjian diantara pemegang saham, penuntut-penuntut senior dan manajemen. 
5.    Hipotesis               
H1:  Indepedensi komite audit secara positif berhubungan dnegan jumlah direktur yang duduk dakam dewan secara keseluruhan.
H2:  Independensi komite audit berkaitan secara positif dengan indepedensi dewan.
H3:  Independensi komite audit berkaitan secara negative dengan pertumbuhan yang diharapkan dalam pendapatan atau aliran-aliran kas dari perusahaan.
H4:  Independensi komite audit lebih rendah pada perusahaan-perusahaan yang melaporkan kerugian berulang pada masa lalu.
H5:  Independensi komite audit terkait secara positif dengan risiko debt to assets perusahaan.
H6:  Independensi komite audit akan berbeda jika para CEO duduk sebagai eksekutif dalam komite kompensasi, daripada jika mereka tidak ada dalam komite kompensasi.
H7:  Independensi komite audit lebih rendah jika pemegang saham dalam jumlah besar duduk sebagai anggota dalam komite audit dewan.
H8:  Independensi komite audit terkait secara negatif dengan persentase saham yang dipegang oleh direktur-direktur dari luar.

6.    Data dan Metode Penelitain       
1)      Populasi, Sampel dan Metode Pemilihan Sampel
            Peneliti mengumpulkan data mengenai anggota dan dewan komite audit dari arsip laporan SEC. Pada awalnya, peneliti memasukkan semua perusahaan Amerika Serikat yang terdaftar dalam S&P 500 pada 31 Maret 1992 dan 1993, dengan rapat pemegang saham tahunan antara  1 Juli 1991, dan 3 Juni 1993. Peneliti mengeluarkan 65 bank dan lembaga keuangan dan 38 perusahaan asuransi. Peneliti juga menghilangkan tiga perusahaan dengan komposisi data komite audit yang hilang, dan 58 perusahaan dengan data CRSP atau Compustat yang hilang. Sampel observasi akhir berjumlah 803 perusahaan.  
2)      Pengukuran Variabel
  1. %Audout merupakan transformasi logistik dari persentase outsider di dalam komite audit.
  2. Board Size merupakan natural log dari jumlah anggota dewan.
  3. %Outsiders merupakan transformasi logistik dari persentase direktur dari luar di dalam dewan.
  4. Growth Opportunities sebagai nilai pasar ekuitas dalam tiga tahun ditambah dengan nilai buku pasiva dibagi dengan nilai buku aktiva selama tiga tahun.
  5. Losses sama dengan 1 jika perusahaan melaporkan kerugian pada setiap dua tahun sebelum rapat pemegang saham perusahaan, dan 0 jika sebaliknya.
  6. Debt-to-Assets merupakan rasio utang terhadap aktiva jangka panjang tiga tahun pada akhir tahun fiskal sebelum rapat pemegang saham.
  7. CEO on compensation committee merupakan variabel yang bercabang yang dinyatakan dengan 1 jika CEO duduk dalam dewan komite kompensasi, dan 0 jika sebaliknya.
  8. 5%Blockholder pada komite audit merupakan variabel yang bercabang dan dinyatakan dengan 1 jika seorang direktur non-manajemen yang memegang paling sedikit 5% dari saham perusahaan duduk sebagai dewan komite audit, dan 0 jika sebaliknya.
  9. %Outside Director Holdings merupakan persentase saham yang dipegang oleh direktur-direktur dari luar.
  10. Firm Size merupakan natural log dari aktiva-aktiva perusahaan pada akhir tahun fiskal sebelum rapat pemegang saham.

3)      Analisis Data
b0 + b1AFFILIATED + b2AFFILIATED x GC_OPINION + b3GOVERNEXPERT + b4 GOVERNEXPERT x GC_OPINION + b5FINEXPERT + b6FINEXPERT x GC_OPINION + b7STOCKOWN + b8STOCKOWN x GC_OPINION + b9SIZE + b10INDSHARE + b11TENURE + b12ZFC + b13MGMTCHG + e
 
            Peneliti mengukur hubungan antara independensi komite audit dan variabel-variabel penjelas dengan mengestimasi regresi sebagai berikut:  
%Audout = α + β1Board Size + β2%Outsiders + β3Growth Opportunities
                        + β4Losses + β5Debt-to-Assets + β6CEO on Compensation Committee
                        + β75%Blockholder on Audit Committee + β8%Outside Director Holdings
                        + β9Firm Size + μ

7.    Hasil dan pembahasan penelitian
Peneliti menguji jika perbedaan-perbedaan dalam independensi komite audit berkaitan dengan faktor-faktor ekonomis dengan sampel 500 perusahaan dari S&P selama tahun 1991—1993. Peneliti menemukan bahwa independensi komite audit meningkat seiring dengan ukuran dewan dan prosentase direktur-direktur dari luar yang ada dalam dewan, sesuai dengan hipotesa bahwa independensi komite audit bergantung pada tingkat penawaran dari direktur-direktur dari luar yang ada dalam dewan. Sebaliknya, independensi komite audit menurun seiring dengan peluang berkembangnya perusahaan dan ketika perusahaan melaporkan kerugian bersihnya dalam tiap-tiap tahun yang terdahulu, yang mendukung hipotesa bahwa independensi komite audit berkaitan dengan permintaan pemegang saham serta manajemen atas penelitian yang keras terhadap proses akuntansi keuangan perusahaan.
Peneliti juga menemukan hubungan negatif antara independensi komite audit dengan kehadiran dari mekanisme pengawasan alternatif, dimana, pada perusahaan-perusahaan besar atau ketika direktur non-manajemen memiliki paling sedikit 5 persen saham perusahaan duduk dalam komite audit. Secara keseluruhan, temuan-temuan peneliti sejalan dengan observasi dari Blue Ribbon Commission’s dimana “satu ukuran tidak bisa untuk semua” ketika hal tersebut diterapkan dalam komite audit. Sehingga, bursa saham dapat mengharapkan fleksibilitas dari dewan direktur untuk menentukan komposisi komite audit mereka sendiri.

8.            Kelemahan dan keunggulan
Kelemahan:
1)      Landasan literatur yang digunakan tidak disebutkan secara jelas dalam uraian artikel.
2)      Peneliti juga tidak menyebutkan grand theory yang digunakan.
3)      Penulis tidak menjelaskan alasan memilih menggunakan sampel penelitian yang digunakan.
4)      Penelitian ini belum menjelaskan mengenai kaitan antara independensi komiteaudit pada tingkat yang lebih rendah untuk perusahaan dengan pertumbuhan yanglebih tinggi dan untuk perusahaan dengan hasil kerugian berkelanjutan dalaminsiden yang lebih tinggi dari kecurangan keuangan.
5)      Komisi Blue Ribbon menyarankan bahwa semua anggota komite audit harusmemiliki keahlian dalam akuntansi keuangan. Dalam penelitian ini belumdijelaskan sampai sejauh mana komite audit harus sesuai dengan saran ini, danfaktor apa ( jika ada) yang terkait untuk memenuhi mandat ini.
6)      Penelitian ini belum meneliti saling ketergantungan antara independensi komiteaudit dan persaingan struktur corporate governance sehingga nantinya kita bisalebih memahami tentang bagaimana perusahaan-perusahaan membuat trade-off antara sebagai mekanisme alternatif pengganti.

Kelebihan:
1)      Judul, hipotesis, dan pembahasan sudah konsisten.
2)      Penulis sudah menjelaskan secara runtut mengenai sitematika penelitian yang digunakan.
3)      Penelitian ini memberikan salah satu implikasi yaitu bahwa perusahaanmenyesuaikan komposisi komite auditnya agar sesuai dengan lingkungan spesifik ekonomi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa SEC dan bursa efek mungkin berharap untuk terus memberikan perusahaan untuk memiliki beberapa fleksibilitas tidak termasuk direktur di luar komite audit mereka.
4)      Penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi atas topik penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya sehingga dapat menyempurnakan informasi dari hasil penelitan sejenis yang telah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya.

10. Rekomendasi Penelitian Selanjutnya
Beberapa kemungkinan bagi penelitian selanjutnya: Pertama, apakah level yang lebih rendah dari independensi komite audit bagi perusahaan yang berkembang pesat dan bagi perusahaan dengan kerugian yang terus-menerus menghasilkan ketidakjujuran keuangan? Kedua, Blue Ribbon Commission menganjurkan bagi seluruh anggota komite audit harus memiliki keahlian dalam akuntansi keuangan. Pada tingkat apa komite audit mematuhi anjuran ini, dan atas dasar faktor apa, jika ada, yang dikaitkan untuk mematuhi perintah tersebut ?. Ketiga, pengujian terhadap ketergantungan antara independensi komite audit dengan struktur persaingan perusahaan dapat melanjutkan pengertian peneliti atas bagaimana perusahaan melakukan kegiatan penjualan diantara mekanisme alternatif yang ada.

AUDITING : Review Artikel EFFECT OF AUTHORITATIVE GUIDANCE AVAILABILITY AND AUDIT COMMITTEE EFFECTIVENESS ON AUDITORS’ JUDGEMENTS IN AN AUDITOR-CLIENT NEGOTITATION CONTEXT



REVIEW ARTIKEL:
 
EFFECT OF AUTHORITATIVE GUIDANCE AVAILABILITY AND AUDIT COMMITTEE EFFECTIVENESS ON AUDITORS’ JUDGEMENTS IN AN AUDITOR-CLIENT NEGOTITATION CONTEXT

Terence Bu-Peow Ng
Hun-Tong Tan
Nanyang Techological University
 


ISU DAN FENOMENA
Laporan keuangan yang telah diaudit adalah hasil dari proses negosiasi antara auditor dan klien. Peneliti menemukan bahwa ketersediaan bimbingan otoritatif memiliki efek lebih besar terhadap persepsi auditor dalam negosiasi hasil ketika komite audit klien tidak efektif daripada ketika berjalan efektif. Demikian pula, efektivitas komite audit memiliki efek lebih besar pada hasil negosiasi yang dirasakan auditor dengan tidak adanya bimbingan otoritatif dalam kehadirannya.
Pernyataan yang dikeluarkan oleh pembuat standar dan badan pengawas (seperti FASB, ASB, dan SEC) memberikan bimbingan otoritatif dalam perbaikan dan resolusi masalah akuntansi yang berpotensi ambigu. Ketersediaan pedoman otoritatif yang tepat bahwa ini menunjukkan penanganan (lebih) perlakuan akuntansi antara alternatif yang tersedia dengan memberikan pembenaran pilihan metode auditor dan penanganan masalah akuntansi (Kennedy, dkk. 1997). Literatur sebelumnya telah mendokumentasikan bahwa auditor menanggapi untuk mengizinkan pelaporan agresif dengan menafsirkan standar yang tidak tepat atau menjadi preseden yang memungkinkan pelaporan tersebut (Hackenbrack dan Nelson 1996; Salterio dan Koonce 1997;. Nelson, dkk 2002). Dengan demikian, selain melayani peran justifikasi teknis, bimbingan otoritatif yang tepat juga dapat dilihat sebagai bagian dari repertoar dari penawaran “amunisi” yang tersedia bagi auditor dalam negosiasi mereka dengan klien untuk pilihan akuntansi agresif. Bimbingan otoritatif seperti ini umumnya merekomendasikan atau memberi mandat bagaimana isu-isu akuntansi harus diperlakukan, dan bagaimanapun membatasi ketersediaan  pilihan akuntansi bagi klien (misalnya, lihat Libby, dkk. [2002] untuk tinjauan literatur ini).

MOTIVASI PENELITIAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh bimbingan otoritatif pada pertimbangan auditor dan kualitas pelaporan keuangan bergantung pada efektivitas komite audit, dan bahwa pengaruh kekuatan komite audit atas efektivitas auditor dan kualitas pelaporan keuangan  tergantung pada ketersediaan bimbingan otoritatif. Peneliti melakukan percobaan di mana auditor memberikan penilaian yang berkaitan dengan penyesuaian yang diusulkan audit yang secara kuantitatif tidak bersifat material tetapi akan mempengaruhi kemampuan klien untuk memenuhi atau mengalahkan konsensus perkiraan analis.

MASALAH PENELITIAN
a.       Apakah proporsi auditor yang meyakini bahwa jumlah penyesuaian audit yang dilaporkan akan mengakibatkan kegagalan klien memenuhi konsensus perkiraan analis dipengaruhi lebih positif oleh ketersediaan bimbingan otoritatif ketika komite audit tidak efektif dibandingkan ketika komite audit efektif?
b.      Apakah proporsi auditor yang percaya bahwa jumlah penyesuaian audit yang akhirnya dilaporkan akan berakibat pada kegagalan klien memenuhi konsensus perkiraan analis lebih positif yang dipengaruhi oleh efektivitas komite audit ketika pedoman otoritatif tidak hadir daripada ketika pedoman otoritatif hadir?

PENELITIAN SEBELUMNYA
1)      Trompeter (1994) menemukan bahwa auditor membuat rekomendasi lebih agresif ketika GAAP memiliki lebih sedikit batasan pada berbagai alternatif akuntansi.
2)      Hackenbrack dan Nelson (1996) menemukan bahwa auditor memiliki kecenderungan menafsirkan standar untuk menunjukkan dukungan pelaporan keuangan yang agresif atau konservatif dari manajemen, tergantung pada insentif mereka.
3)          McAlister, et. al. (1986) menyelidiki konteks profitabilitas kendala eksternal dan menemukan hasil bahwa penelitian negosiasi dengan menggunakan konteks pembeli-penjual menunjukkan bahwa daya tawar dapat menggerakkan efek kendala eksternal pada hasil negosiasi.
4)      Nichols dan Price (1976) dan Gibbins, et. al (2001) menemukan bahwa ketersediaan bimbingan otoritatif dan efektivitas komite audit juga dapat dilihat sebagai alternatif sumber daya penawaran bagi auditor dalam negosiasi mereka dengan klien.
5)      Brown dan Solomon (1990) dalam pengolahan konfigurasi auditor kontrol internal menemukan ketersediaan bimbingan otoritatif dan efektivitas komite audit juga dapat dilihat sebagai kompensasi mekanisme kontrol atas kualitas pelaporan keuangan. Demikian juga dengan Johnstone, et. al. (2001).


HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H1a     : Proporsi auditor yang meyakini bahwa jumlah penyesuaian audit yang dilaporkan akan mengakibatkan kegagalan klien memenuhi konsensus perkiraan analis dipengaruhi lebih positif oleh ketersediaan bimbingan otoritatif ketika komite audit tidak efektif dibandingkan ketika komite audit efektif?
H1b     : Proporsi auditor yang percaya bahwa jumlah penyesuaian audit yang akhirnya dilaporkan akan berakibat pada kegagalan klien memenuhi konsensus perkiraan analis lebih positif yang dipengaruhi oleh efektivitas komite audit ketika pedoman otoritatif tidak hadir daripada ketika pedoman otoritatif hadir.

METODE PENELITIAN
Populasi dalam penelitian ini adalah manajer audit di berbagai kantor Amerika dari perusahaan Big 4. Penelitian dilakukan secara online dengan bantuan contact person dari perusahaan Divisi Jasa Asuransi. Kami memperoleh tanggapan 113 dari 224 manajer audit yang dihubungi melalui email , menghasilkan tingkat tanggapan 50 persen . Kami dihilangkan 12 tanggapan yang tidak lengkap atau tidak sesuai. Sisanya 101 auditor memiliki rata-rata 8,3 tahun pengalaman audit, 38 persen di antaranya dihabiskan dengan SEC, klien yang terdaftar. Penelitian ini menggunakan alat ukur statistic deskritif untuk menguji hipotesisnya dan menggunakan analisis tambahan. Email itu disertai dengan pesan penutup dari Direktur Jasa Asuransi yang meminta partisipasi penelitian dan meyakinkan peserta atas kerahasiaan respon mereka. Dalam instruksi, kami mengingatkan peserta melakukan tugas-tugas penilaian secara independen dan memberikan alamat email mereka.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Hipotesis
1.      Hipotesis 1a memprediksi bahwa pengaruh bimbingan otoritatif tentang hasil negosiasi auditor dimoderatori oleh efektivitas komite audit. Pengujian efek utama menunjukkan bahwa, ketika komite audit tidak efektif, proporsi signifikan lebih tinggi dari auditor bahwa jumlah laporan akan mengakibatkan kegagalan klien memenuhi konsensus perkiraan analis ketika pedoman otoritatif hadir daripada saat tidak hadir. Sebaliknya, ketika komite audit efektif, perbedaan proporsi antara dua kondisi pedoman secara statistik tidak signifikan. Hasil ini konsisten dengan H1a.
2.      Hipotesis 1b memprediksi bahwa efek efektivitas komite audit yang dipersepsikan sebagai hasil negosiasi auditor dimoderatori oleh ketersediaan pedoman otoritatif. Pengujian pengaruh utama sederhana menunjukkan bahwa, ketika pedoman otoritatif tidak ada, proporsi signifikan lebih tinggi dari auditor bahwa pelaporan akan mengakibatkan kegagalan klien memenuhi konsensus perkiraan analis ketika komite audit klien bersifat efektif daripada saat ini tidak efektif. Sebaliknya, ketika pedoman otoritatif hadir, tidak ada perbedaan proporsi antara kondisi efektivitas komite Audit. Hasil ini sejalan dengan H1b.

Analisis Tambahan
Kecenderungan auditor mengakui Posisi Klien yang Diinginkan
Pada bagian ini, peneliti menilai apakah hasil negosiasi auditor yang dipersepsikan menyimpang dari rekomendasi awal mereka dengan cara yang menunjukkan konsesi menuju posisi yang diinginkan klien. Sejauh rekomendasi awal auditor mendekati penilaian mereka atas penyesuaian audit yang paling tepat, perpindahan rekomendasi awal mereka menuju posisi yang diinginkan klien menunjukkan pergeseran objektivitas auditor. Hasil ini menunjukkan bahwa ketersediaan pedoman otoritatif dan efektivitas komite audit secara bersama-sama mempengaruhi kecenderungan auditor untuk mengakui posisi klien.
Pengaruh Pergerakan Konsesi Klien selama Negosiasi
Untuk menguji efek pergerakan konsesi oleh klien selama negosiasi penilaian auditor, kami menyertakan tiga perlakuan tambahan. Secara keseluruhan, analisis tambahan yang disajikan di sini memberikan beberapa bukti bahwa strategi negosiasi klien bisa memberikan pengaruh pada kecenderungan auditor untuk mengakui posisi klien. Hasil tidak memberikan bukti kuat bahwa pengaruh ini dimoderatori oleh ketersediaan pedoman otoritatif.

SIMPULAN DAN KETERBATASAN
Simpulan
Penelitian ini menemukan bahwa ketersediaan pedoman otoritatif dan efektivitas komite audit klien bersama-sama mempengaruhi penilaian apakah penyesuaian audit yang akhirnya dilaporkan setelah negosiasi dengan klien mengakibatkan kegagalan klien untuk memenuhi analis perkiraan konsensus auditor. Temuan kami menunjukkan bahwa usaha FASB saat ini dapat berdampak signifikan dalam negosiasi auditor-klien dalam masalah akuntansi, tetapi efek ini mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan dari komite audit klien.
Selain itu, hasil menunjukkan bahwa ketersediaan pedoman otoritatif dan efektivitas komite audit secara bersama-sama mempengaruhi kecenderungan auditor untuk mengakui posisi yang disukai klien. Hasil dari kondisi perlakuan tambahan menunjukkan bahwa kecenderungan auditor untuk mengakui posisi klien mungkin disebabkan, karena kehadiran pergerakan konsesi oleh klien. Bahkan auditor lebih cenderung obyektif menilai manfaat masalah sebelum masuk ke dalam proses negosiasi, persyaratan untuk mendokumentasikan auditor penilaian dari masalah sebelum proses negosiasi, bersama dengan pengawasan dan pembenaran dari setiap perubahan yang signifikan dari posisi penilaian awal mereka setelah negosiasi, dimana dapat berfungsi sebagai mekanisme kontrol yang berguna untuk mengurangi dampak negatif dari pengaruh strategis yang dapat merusak efektivitas auditor. Selanjutnya, temuan bahwa komite audit berdampak pada ketersediaan pedoman otoritatif (dan sebaliknya) dari auditor dirasakan hasil negosiasi yang memiliki implikasi potensial dalam praktek untuk alokasi usaha oleh perusahaan dan regulator dalam kompensasi mekanisme yang berfungsi secara bersama-sama meningkatkan kualitas pelaporan keuangan.

Keterbatasan Riset
a.       Keterbatasan makalah adalah bahwa penelitian ini menggunakan situasi di mana auditor diberikan informasi umum tetapi bukan informasi spesifik tentang masalah pendapatan dan pedoman yang tersedia.
b.      Keterbatasan lain adalah bahwa peserta dalam penelitian ini adalah manajer audit. Seperti yang telah ditunjukkan, manajer audit rutin terlibat dalam aspek negosiasi klien. Mereka harus menyadari apa yang akan didokumentasikan sebelum negosiasi, bersamaan dengan hasil negosiasi, yang merupakan elemen dalam mengukur penelitian ini. Namun, mitra audit lebih erat terlibat dalam proses negosiasi klien, dan respon mereka mungkin tidak mencerminkan seorang manajer.
c.       Peserta penelitian berasal dari salah satu perusahaan Big 4, dan hasilnya mungkin tidak sampai ke auditor dari perusahaan audit lainnya
d.      Studi ini diberikan secara online melalui Internet kepada peserta, dengan demikian peneliti tidak memiliki kontrol yang memadai.