KLIK gambar untuk menutup Iklan

Friday, May 11, 2018

KONSEP INFLASI


      KONSEP INFLASI
2.1.1.   Pengertian Inflasi
Jika mengamati harga-harga barang atau jasa, tidak ada harga yang tetap atau konstan dari waktu ke waktu, bahkan cenderung naik. hal tersebut diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara arus uang dan arus barang. Dimana arus barang harus mengalir dari hasil produksi perusahaan ke pasar barang dan bertemu dengan arus yang berasal dari pembelanjaan pemerintah dan rumah tangga atau konsumen.
Pada keadaan seperti ini, harga akan tercipta. Jika arus uang dan arus barang berada dalam keseimbangan, maka harga akan stabil, jumlah penawaran sama dengan jumlah permintaan. Begitu pula jumlah uang yang tersedia di masyarakat. Jika terjadi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan barang, serta arus uang dan arus barang saat itulah yang dinamakan inflasi. Untuk lebih tepatnya, pengertian inflasi adalah ”suatu proses atau peristiwa dalam perekonomian yang diakibatkan karena terganggunya keseimbangan antara arus uang dan arus barang. ” Atau inflasi adalah suatu gejala dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus menerus.
Ada 3 unsur dalam pengertian inflasi :
1.      Adanya kenaikan harga secara umum
2.      Terjadinya kenaikan harga secara terus menerus
3.      Kenaikan harga berlangsung dalam jangka waktu lama.

Bila kenaikan yang terjadi hanya sekali, walaupun persentasi yang cukup besar belum dapat dikatakan sebagai inflasi karena tidak mempunyai pengaruh lanjutan. Sebagai contoh, kenaikan harga-harga menjelang bulan Ramadan ataupun pada hari besar lainnya belum dapat dikatakan sebagai inflasi karena tidak mempunyai pengaruh lebih lanjut. Kejadian seperti contoh diatas, diistilahkan sebagai kenaikan tingkat harga dan setiap peristiwa yang cenderung mendorong naiknya tingkat harga disebut sebagai gejolak inflasi. Sedangkan tingkat persentase kenaikan tingkat harga dan beberapa indeks harga dari suatu periode ke periode lain disebut dengan laju inflasi.

a.      Teori Inflasi 
Teori Keynes
Keynes melihat bahwa inflasi terjadi karena nafsu berlebihan dari suatu golongan masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia.
Teori Struktural
Teori ini menyorot penyebab inflasi dari segi struktural ekonomi yang kaku. Produsen tidak dapat mengantisipasi dengan cepat kenaikan permintaan yang disebabkan oleh pertambahan penduduk.
Teori Kuantitas
Harga akan naik jika ada penambahan uang yang beredar. Jika barang yang ditawarkan tetap sedangkan jumlah uang yang beredar ditambah dua kali lipat, maka cepat atau lambat harga akan naik menjadi dua kali lipat.
2.1.2.   Penyebab Inflasi
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi/distribusi (kurangnya produksi (product or service) atau juga termasuk kurangnya distribusi).
 Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.
Inflasi permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan di mana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi  full employment di mana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas di pasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, di mana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal, yaitu : kenaikan harga, misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji, misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
Secara umum penyebab inflasi adalah sebagai berikut ;
1.      Jumlah uang yang beredar terlalu berlebihan sehingga melebihi keuntungan
2.      Tradisi masyarakat yang bersifat konsumtif sering mengimpor barang
3.       Terjadinya bencana alam
4.      Terjadinya defisit pada APBN
5.      Terjadinya eksparsi kredit
6.      Terjadi pemberontakan
7.      Pengenaan pajak pada konsumen
8.      Kenaikan harga BBM
2.1.3.   Jenis – jenis Inflasi
a)     Berdasarkan Sifatnya :
1)     Inflasi Ringan (Creeping Inflation)
Inflasi ini ditandai dengan laju inflasi yang rendah (kurang dai 10% per tahun). Kenaikan harga berjalan sangat lambat dengan persentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.
2)     Inflasi Sedang
Adalah inflasi yang lajunya  berada diantara 10% sampai dngan 30% pertahun

3)     Inflasi Berat
Adalah inflasi yamg lajunya berada di antara 30%sampai dengan 100% pertahun
4)     Hiperinflasi
Inflasi yang terjadi di atas 100% pertahun, akibat yang terjadi jika inflasi di atas 100% adalah masyarakat akan mengalalmi ketidakpercayaan terhadap pemakaian uang. akibat yang lebih parah lagi adalah terjadinya kehancuran system ekonomi yamg dibangun (di alami Indonesia pada decade tahun 1966, inflasi yang terjadi yaitu 650% pertahun).
b)     Berdasarkan Sebabnya :
1.      Inflasi Permintaan Agregat (Demand Pull Inflation)
Penyebab pertama kali inflasi jenis ini adalah adanya kenaikan permintaan total, (agregat demand) sedangkan produksi berada pada keadaan kesempatan kerja penuh (pull employment). apabila kesempatan kerja penuh tercapai, maka pertambahan permintaan hanya akan menaikan harga, sedangkan kenaikan jumlah produksi tidak dapat diusahakan lagi. inflasi jenis ini disebut inflasi jenis murni. apabila kenaikan permintaan menyebabkan terjadinya keseimbangan, GNP berada diatas GNP pada kesempatan kerja penuh, maka terjadilah inflationari gap yang pada akhirnya akan menimbulkan inflasi.

 








Gambar 1. Karena permintaan masyarakat akan barang – barang bertambah (misalnya karena bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang, atau kenaikan permintaan luar negeri akan barang – barang ekspor, bertambahnya pengeluaran investasi swasta karena kredit yang murah), maka kurva agregate demand  bergeser dari D1 ke D2. Akibatnya tingkat harga umum naik dari H1 ke H2.    
2.      Inflasi Biaya (Cost Push Inflation)
Inflasi biaya ini terjadi karena adanya penurunan dalam penawaran total (agregat supply) karena adanya kenaikan biaya produksi. kenaikan biaya produksi menyebabkan adanya kenaikan harga serta produksi akan turun. jika berjalan terus-menerus maka akan terjadi cost push inflation.
 










                        Gambar 2. Bila biaya produksi naik (misalnya, karena kenaikan harga bahan bakar minyak), maka kurva penawaran masyarakat (agregat supply) bergeser dari S1 ke S2. Akibatnya tingkat harga umum naik H1 ke H2.
c)         Berdasarkan Asalnya :
1.      Inflasi yang berasal dari Dalam Negeri (Domestic Inflation)
Penyebab ; Anggaran belanja dibiayai dengan pencetakan uang baru, kenaikan upah, dan sebagainya.

2.      Inflasi yang berasal dari Luar Negeri (Imported Inflation)
Inflasi yang berasal dari luar negeri adalah inflasi yang timbul karena kenaikan harga-harga di luar negeri atau negara-negara mitra dagang.
2.1.4.   Dampak Inflasi Bagi Perekonomian
1.      Dampak Inflasi terhadap Perekonomian secara Umum.
a)     Mendorong penanaman modal spekulatif
Pemilik modal lebih cenderung menanamkan modalnya  dalam bentuk tanah atau emas dari pada ditanamkan pada investasi yang produktif
b)     Tingkat bunga meningkat
Jika tingkat bunga meningkat karena terjadi inflasi maka para pemilik modal akan cenderung menyimpan uangnya, akibatnya investasi akan berkurang.
c)      Adanya ketidakpastian keadaan ekonomi dimasa yang akan datang
d)     Timbulnya masalah dalam neraca pembayaran
Hal tersebut diakibatkan karena harga  impor lebih mudah dari pada barang dalam negeri, akibatnya nilai ekspor lebih kecil dari nilai impor. Hal ini akan menyebabkan neraca pembayaran defisit serta nilai rupiah makin turun.
e)      Daya beli masyarkat turun dikarenakan nilai mata uang turun
2.      Dampak Inflasi terhadap Perekonomian secara khusus.
a)     Dampak inflasi terhadap pendapatan (equity effect)
Efek inflasi terhadap pendapatan bersifat tidak merata, ada yang mengalami kerugian terutama mereka yang berpenghasilan tetap dan ada pula kelompok yang mengalami keuntungan dengan adanya inflasi. Inflasi menguntungkan masyarakat yang pendapatannya ikut naik dengan adanya kenaikan harga, tetapi merugikan golongan masyarakat yang mempunyai pendapatan tetap. Hal ini disebabkan pada masa inflasi harga barang-barang dan jasa-jasa naik yang berarti turunnya nilai uang. Pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan persentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dimana nilainya naik dengan persentase lebih besar dari laju inflasi.
·         Inflasi akan merugikan bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti; pegawai negeri.  Contoh, amir seorang pegawai negeri memperoleh gaji Rp. 60.000.000 setahun dan laju inflasi     10%. Bila penghasilan Amir tidak mengalami perubahan, maka ia akan mengalami penurunan     pendapatan riil sebesar 10% x Rp. 60.000.000 = Rp. 6.000.000.
·         Kerugian akan dialami bagi mereka yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang tunai.
·         Kerugian akan dialami para kreditur, bila bunga pinjaman yang diberikan lebih rendah dari     inflasi.
·         Di lain pihak ada yang diuntungkan dengan adanya inflasi:
§  Orang yang persentase pendapatannya melebihi persentase kenaikan inflasi.
§  mereka yang memiliki kekayaan bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi dalam bentuk barang atau emas.

b)     Dampak inflasi terhadap efisiensi (efficiency effect)
Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan merubah pola alokasi faktor produksi yang sudah ada.
§  Proses produksi dalam penggunaan faktor-faktor produksi menjadi tidak efisien pada saat terjadi inflasi.
§  Perubahan daya beli masyarakat yang berdampak terhadap struktur permintaan masyarakat terhadap beberapa jenis barang.
c)      Dampak inflasi terhadap output (output effect)
Apabila laju inflasi sangat tinggi (hyper inflation) dapat menyebabkan penurunan output. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang riil turun dengan drastis, masyarakat cenderung tidak menyukai uang kas,  transaksi mengarah ke barter, yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang.
§  Inflasi bisa menyebabkan kenaikan produksi. Biasanya dalam keadaan inflasi kenaikan harga   barang akan mendahului kenaikan gaji, hal ini yang menguntungkan produsen.
§  Bila laju inflasi terlalu tinggi akan berakibat turunnya jumlah hasil produksi, dikarenakan nilai riil   uang akan turun dan masyarakat tidak senang memiliki uang tunai, akibatnya pertukaran   dilakukan antara barang dengan barang.
2.1.5.   Cara Mengatasi Inflasi
Dengan menggunakan persamaan Irving Fisher MV = PT dapat dijelskan bahwa inflasi timbul karena MV naik lebih cepat daripada T. Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya inflasi maka salah satu Variabel (M atau V) harus dikendalikan dan volume T ditingkatkan guna mencegah/mengurangi inflasi. Cara mengatur variable M, V dan T dapat dilakukan dengan menggunakan kebijaksanaan. Salah satu komponen jumlah uang adalah uang giral (demand deposit). Bank sentral dapat mengatur uang giral melalui penetapan cadangan minimum. Untuk menekan inflasi cadangan minimum dinaikkan sehingga jumlah uang menjadi lebih kecil.

2 comments: