KLIK gambar untuk menutup Iklan

Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Sunday, May 28, 2017

Kepemimpinan etis dan keragaman budaya


Kepemimpinan etis dan keragaman budaya


Konsep Kepemimpinan Etis

            Kepemimpinan etis adalah perilaku berstandar normatif berupa nilai-nilai moral, norma-norma, dan hal-hal yang baik-baik. Etika difungsikan sebagai penuntun dalam bersikap dan bertindak menjalankan kehidupan menuju ke tingkat keadaan yang lebih baik. Pada dasarnya arti hakiki etika adalah determinasi pedoman untuk menjalankan apa-apa yang benar dan tidak melakukan apa-apa yang tidak benar. Dengan demikian menjalankan suatu kehidupan yang beretika diyakini akan membawa kehidupan pada suatu kondisi yang tidak menimbulkan efek negatif yang merugikan bagi kehidupan di sekitarnya.
            Ditinjau dari segi evolusi, dimensi etika dapat menjadi faktor kunci keberhasilan suatu kepemimpinan. Dalam suatu organisasi, kepemimpinan yang dinilai baik apabila fungsi-fungsi kepemimpinan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip beretika. Kepemimpinan beretika akan membuat suasana hubungan kerja dalam organisasi lebih nyaman dan terhindar dari konflik vertikal maupun konflik horisontal. Sebab, pelaku-pelaku organisasi menyadari keberadaan pedoman dan penuntun berupa prinsip-prinsip etika yang membatasi gerak bersikap dan bertindak.

Adapun prinsip-prinsip etika berorganisasi adalah :
1.      Menjaga perasaan orang lain
2.      Memecahan masalah dengan rendah hati
3.      Menghindari pemaksaan kehendak tetapi menghargai pendapat orang lain
4.      Mengutamakan proses dialogis dalam memecahkan masalah
5.      Menanggapi suatu masalah dengan cepat
6.      Dan sesuai dengan keahlian (competence)
7.      Menyadari kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki (improving value)
8.      Mengedepankan sikap jujur, disiplin, dan dapat dipercaya.

            Upaya menerapkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinan bukanlah suatu hal yang mudah. Untuk kebutuhan itu diperlukan suatu kesamaan persepsi untuk apa organisasi dijalankan. Dalam arti diperlukan suatu komitmen para pelaku organisasi menyamakan langkah tindak untuk mewujudkan tujuan organisasi. Satu hal lain yang juga penting adalah pemberlakuan sanksi yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi proses pembelajaran atas kesalahan yang diperbuat pelaku organisasi. Sanksi dapat diberlakukan tanpa harus adanya diskriminasi. Oleh karena itu setiap organisasi hendaknya mempunyai ´kode etik organisasi´ yang berfungsi sebagai alat pengendalian atau pengawasan organisasi. Kode etik organisasi dan perencanaan strategis (renstra) organisasi dapat dijadikan sebagai pedoman oleh majelis pertimbangan organisasi mengawasi jalannya roda organisasi.
Kode etik organisasi disusun berdasarkan pertimbangan beberapa faktor :
1.      Peraturan dan ketentuan yang disepakati
2.      Sinergitas
3.      Persaingan yang sehat
4.      Competition is matter of spirit
5.      Not strength
6.      Tanggung jawab atau integritas
7.      Hubungan kerja
8.      Aspirasi.

              Etika kepemimpinan dalam menjalankan kegiatan organisasi merupakan dimensi yang tidak terpisahkan dari kehidupan organisasi keseharian. Tanpa adanya etika kepemimpinan yang efektif dapat mengakibatkan keseimbangan organisasi terganggu. Etika kepemimpinan yang diterapkan oleh pengurus organisasi dalam menjalankan roda organisasi dapat menebarkan nilai tambah (value added) bagi peningkatan karakter diri terutama dalam kekokohan mental dan spiritual.
Etika kepemimpinan organisasi kemahasiswaan merupakan wahana proses pembentukan jiwa kepemimpinan di kampus, dan juga bagian dari proses pembelajaran menempa diri menjadi pemimpin handal di berbagai bidang kehidupan sosial kemasyarakatan.

B. Keragaman Budaya dalam kepemimpinan
            Perilaku setiap anggota kelompok budaya tergantung pada sejarah orang-orang/individu dalam kelompok masyarakatnya. Pengalaman telah menunjukkan kegagalan belajar dari sejarah, dan kesalahan-kesalahan yang diulangi oleh beberapa generasi dalam waktu lama Akhirnya harus mengikuti seperangkat Norma dan nilai yang berdasarkan pengalaman dan perkembangan mereka.
            Disamping pengaruh historis dan lingkungan, mentalitas suatu bangsa yang menentukan sifat dan karakteristik bahasa tertentu akan mempengaruhi luas terhadap perkembangan visi, misi, kharisma, emosi, perasaan politik, disiplin dan hirarki.
            Kepemimpinan Individual dan Kolektif Organisasi secara otomatis mengisyaratkan kepemimpinan yang mempunyai wewenang untuk menetapkan suatu peraturan sebagai pedoman bertindak. Bentuk baru kepemimpinan kolektif di pemerintahan baik pda tingkat regional dan lokal selama berabad abad.
            Aturan kolektif penduduk mengilhami bentuk dan pola kepemimpinan pada daerah tersebut yang ditunjukan oleh faktor-faktor yang memimbulkan kepemimpinan dan organisasi masyarakat seperti :
            Adat istiadat, lingkungan iklim, sejarah, agama, bahasa, filsafat yang mempengaruhi; fisiologi (penampilan fisik), sukses (perang, perdagangan, pertanian), Kegagalan (kekeringan, Invasi, Penyakit), yang merupakan reaksi terhadap kepemimpinan dan Konsep status dan Penggunaan Waktu Menimbulkan Organisasi (Visi, Misi, Norma, aturan, struktur, energi, wewenang, dan fungsi.) Tujuannya sebagai kelangsungan hidup menuju kemakmuran (cita-cita).
Organisasi biasanya diciptakan oleh pemimpin. Apakah kepemimpinan tersebut; otoriter, individual, atau kolektif yang berfungsi sebagai :
1)      Model fungsi Pengembangan jaringan (networking) ,
2)      Model fungsi oreantasi tugas.
Cara pemimpin dalam ragam budaya memahami organisasi antara lain dapat dikenali dengan :
1)      Bahasa dan budaya, dengan membentuk timkerja yang serasi dan padu diperlukan informasi tentang sejarah dasar daerah tersebut dengan cirri cirri kebudayaannya dan mempelajari bahasa daerah dalammembangun tim yang kuat dalam organisasi.
2)      Kekuatan non fisik, dimana akal sehat, pendidikan yang baik dan kedewasaan individu, akademik maupun organisasi yang merupakan sumber daya untukmenghindari perilaku yang negative sebagai mitra kerja. Tidakhanya mengandalkan kewenangan saja dalam memimpin organisasi /masyarakat.
3)      Mengelola Tim, karena semakin berkembang tim/organisasi tersebut secara nasional, international atau global, menyebabkan pengelolaan tim melalui koordinasi yang berbeda secara terus menerus (sesuai perkembangan). Pembentukan Tim building menjadi bahasan dalamm kajian manejemen.
4)      Latihan pembentukan tim, melalui banyak cara latihan yang pembentukan tim (team building excercises), organisasi bersifat multi nasional, disekolah sekolah bisnis yang mementingkan kerjasama tim dalam menelaah kasus seperti berkemah atau out bound (belajar diluar ruangan/alam terbuka).
            Menjembatani Kesenjangan Komunikasi. Yaitu melalui Komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung (media) terdapat dialek atau pemahaman yang berbeda menyebabkan terjadi kesalah pahaman dalam berkomunikasi tersebut. Untuk perlu dipahami hal hal yaitu :
1)      Bahasa
            Kesenjangan Komunikasi, menyangkut aspek; linguistic, praktis dan budaya. Masalah praktis biasanya paling mudah dipecahkan oleh pemimpin bagaimana harus berprilaku di suatu daerah.
            Penyesuaian pola pikir, sebagai upaya pemimpin dalam menagdakan pertemuan yang yang menarik dan tidak membosankan sampai menghasilkan keputusan yang disepakati secara santai atau bermain dalam kelompok masyarakat, seperti main golf atau sambil makan malam, sarana hiburan rakyat dll.
            Nilai dan Citra diri, dengan beraneka ragamnya budaya budaya dalam masyarakat kita. Maka pimpinan harus melihat dalam kacamatan budaya keragaman terebut. Termasuk disini nilai nilai dan tradisi serta keagamaan dan ritual ritual kelompok budaya. Citra merupakan bagian persepsi nilai untuk melihat diri mereka melalui kacamata budaya dan kebiasaa serta adapt istiasat mereka.
            Etika, orang orang memandang keputusan sejak diputuskan merupakan perjanjian lisan yang dirumuskan menjadi dokumen tertulis yang legal. Secara etis orang terikat pada keputusan yang dibuatnya.

B.1 Keragaman Sebagai Kekuatan.
            Keanekaragaman; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan, bahasa daerah dan lainnya di Indonesia yang tumbuh dan berkembang sebagai nilai-nilai yang mengakar dalam kelompok kelompok masyarakatadalah sebagai kekuatan. Apabila dikelola dengan baik untuk menimbulkan kekuatan bangsa yang besar. Bagi pemimpin aspek inilah merupakan peluang dalam memainkan pola kepemimpinan yang bagaimana harus dilakukan dalam menghadapi masyarakat tertentu.
            Selanjutnya keragaman tersebut akan menumbuhkan keterikatan keterikatan akan bidang; hukum, aturan atau dogma dogma agama yang dianut masyarakat. Karena itu seorang pemimpin perlu memahami kondisi tersebut dalam memimpin masyarakat tertentu. Disamping munculnya konflik konflik kepentingan antar kelompok tersebut dengan pembinaan rasa kesatuan bangsa (nation building) harus diutamakan dalam memimpin kelompok masyarakat dan masyarakat bangsa.

B.2 Keragaman Sebagai Kelemahan.
            Keanekaragaman atau kemajmukan; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan dll, apabila tidak dapat dibina dalam satu kesatuan yang bulat bukan tidak mungkin akan menimbulkan perpecahan. Dimulai dari perpecahan kecil menjadi semakin besar bila tidak pernah diantisipasi dengan upaya kepemimpinan dengan memperhatikan budaya untuk mempersatukan mereka dalam pembangunan menuju masyarakat yang sejahtera. Perpecahan yang cukup rawan; masalah keragaman agama, adat istiadat, perbedan suku/etnis/ras, perbedaan kebiasaan dll.

C. Tanggung Jawab Etis Pemimpin dalam Mengelola Keragaman
            Saat ini organisasi masyarakat semakin bersifat keragaman (multi budaya), sejak kemerdekaan Indonesia 61 tahun. Lalu, Hal ini menyebabkan semakin kompleksnya masalah kehidupan dalam keragaman tersebut.
            Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta komunikasi dan informasi semakin mewarnai kehidupan masyarakat. Menyebabkan kebudayaan didunia semakin berinteraksi secara global, mengakibatkan terjadi perubahan dibidang ekonomi, politik dan kebiasaan hidup baru yang melahirkan kenyataan terjadinya perubahan budaya dan pola kepemimpinan. Globalisasi media massa sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat modern dalam diri mereka akan perbaikan mutu kehidupan mereka.
            Membantu orang orang bekerja lebih cerdik merupakan manejemen multy budaya yang efektif, maka kepemimpinan perlu menciptakan struktur yang memungkinkan orang orang ambil bagian dalam tujuan organisasi.
            Manajemen dirumuskan sebagai harapan/pengawasan yang berarti maneger maneger yang efektif menciptakan harapan atas pelaksanaan tugas dengan para bawahannya dengan hasil pekerjaan yang dilakukan.
            Praktek manejemen multy budaya menurut McGregor (Humas Side of Interprice) bahwa setelah 40 tahun. Para ilmuwan di bidang perilaku manusia (behaviore) menyampaikan pesan tersebut. Baru sekaranglah mulai menterjemahkan ide-ide tersebut dalam tindakan (organisasi). Pemimpin ragam budaya sejati adalah pimpinan yang inovatif, yang menjadi komunikator dan negosiator antar budaya yang efektif dalam berbagai lingkungan masyarakat.
Ciri ciri manajer multi budaya adalah ;
1)      Berfikir melampaui persepsi lokal
2)      Siap untuk mengganti dengan pemikiran baru dan membuang pemikiran lama.
3)      Menciptakan kembali norma-norma dan praktek budaya dengan hal yang baru.
4)      Memprogram kembali peta dan bangunan mental mereka.
5)      Menyesuaikan diri dengan lingkungan dan gaya hidup yang baru.
6)      Menyambut baik pengalaman linta budaya bangsa.
7)      Kemampuan akan kecakapan multy budaya.
8)      Menciptakan sinerja budaya kapan dan dimana saja.
9)      Bekerja efektif dalam lingkungan multy nasional/bangsa
10)  Memimpin kesempatan kesempatan dan usaha transnasional.
11)  Menciptakan scenario masa depan yang optimis.
12)  Mempelajari hubungan antar manusia /bangsa dan nilaimglobal.
13)  Terbuka dan fleksibel dalam menghadapi orang orang yang beragam budaya.
14)  Mudah bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang; ras dan lainnya.

C.1 Konsekuensi Kepemimpinan Dalam Ragam Budaya.
Perkembangan berfikir dan aspirasi.
            Masyarakat yang saat ini mudah mendapat informasi, dapat menyampaikan keinginan mereka kepada pemerintah di era keterbukaan melalui aspirasi-aspirasi tertentu. Konsekuensinya bagi pemerintah/pimpinan adalah untuk mendengarkan secara baik dan merespon secara baik sesuaidengan ketentuan dan kehendak orang/warga lebih banyak dalam kelompok masyarakat.
            Kecenderungan adanya perkembangan bersifat negative dari berlakunya UU No.22 tahun 1999 dan saat ini di revisi dengan UU N0.32 tahun 2004 yaitu dimana masing-masing daerah (region) dengan semangat otonomi dengan munculnya konflik kepentingan dalam dan antar daerah. Sehingga egoisme daerah sangat menonjol, walau ada kerjasama antar daerah.
Masalah-Masalah Kepemimpinan dalam Ragam Budaya:
1)      Perbedaan adat istiadat dan kebiasaan.
2)      Hambatan komunikasi pada masyarakat tertentu.
3)      Kemampuan Kepemimpinan dalam ragam budaya.
4)      Adanya sumber sumber yang ada di daerah dengan erbedaan yang mencolok.
C.2. Kepemimpinan yang tepat dalam Pengelolaan Masalah Keragaman
            Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan / keterampilan untuk mempengaruhi atau menggerakkan perilaku orang lain untuk bekerja secara efektif dan efisien. Melalui kopentensi pemimpin yaitu :
1)      Kompetensi Teknis, bersifat keterampilan dan kemampuan khusus/tehnis.
2)      Kompetensi menejerial, bersiafat mulai dari perencanaan, pengorganisasian, Penggerakan dan pengawasan.
3)      Kompetensi sosial, kemampuan untuk berintekrasi dengan orang lain.
4)      Kompetensi strategi, kemampuan untuk melihat jauh kedepan dan merumuskan Masalah dan strategi.
            Kebudayaan berkaitan erat dengan ilmu ilmu sosial seperti ; sosioligi, psikhologi , anthropologi karena membicarakan fenomena dalam masyarakat. Dalam membicarakan Sistem Adminiatrasi Publik dalam Negara RI (SAPRI), kebudayaan merupakan factor sangat penting, karena menyangkut kajian mengenai berbagai perilaku seseorang maupun kelompok yang beroreantasi tentang kahidupan bernegara , penyelenggaraan pemerintahan, politik, hukum, adat istiadat dan norma, kebiasaan yang berjalan yang dilaksanakan dan dihayati oleh anggota masyarakat sehari hari dalam organisasi (formal dan informal).
            Berbicara tentang Kebudayaan Indonesia, Terasa sulit karena Indonesia memiliki keragaman budaya yang dihasilkan oleh berbagai suku bangsa Indonesia. Keberagaman itulah yang menjadi kebudayaan Indonesia yang tercermin dalam nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhineka Tunggal Ika.
            Dalam pola kepemimpinan tersebut, diperlukan usaha usaha untuk menemukan nilai-nilai budaya yang beranekaragam tersebut dengan memahami perbedaan dan persamaan diantara mereka dalam semangat kebhinekaan. Unsur-unsur penting dalam dimensi budaya melalui komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu, pendekatan-pendekatan psikologis yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dalam pola kepemiminan dalam komunikasinya.
            Dimensi kebudayaan lain seperti pola pikir yang digunakan kelompok/individu biasanya berdasarkan nilai nilai kebudayaan masyarakat suatu kelompok etnis sejak dari kecil sudah terbiasa dalam berpola pikir dan berperilaku seperti hal tersebut. Perangkat nilai serta Norma dalam budaya merupakan perangkat cita-cita dan keinginan yang diharapkan dalam kelompok masyarakatnya. Nilai baik dan buruk dan yang dilarang dan suruhan mempengaruhi sikap dan perilaku mereka.
            Unsur paling penting dalam kebudayaan kita adalah sistem nilai, gambaran diri, komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu yang kita kaji dan amati dari perbedaan kebudayaan yang berbeda dan memilih suatu kebudayaan yang pasti benar atau salah.
            Interaksi dalam hidup bermasyarakat dalam budaya tertentu didasarkan pada perangkat nilai tertentu yang berkembang sejak kecil. Nilai-nilai tersebut kemudian dikumpulkan, diberi ganjaran dan ditekankan keluarga, komunitas, organisasi dan bangsa kita. Perbedaan nilai tersebut menjadikan akan memberi tahu siapa kita ini yang hidup dalam budaya bagaimana (menjadi orang Indonesia, orang Arab, orang Amerika) dan lain-lain yang mencerminkan cirri-ciri kebudayaan tertentu sebuah bangsa.
            Membangun kepekaan budaya seseorang perlu adanya sensor yaitu mendengarkan, Mengamati, merasakan (fase I). Dalam Fase II yaitu menanggapi, ambil bagian, Tumbuh, selama interaksi dalam menyaring pesan yang datang. Fase III dengan menyesuaikan, berbagi, mengalami dan kemudian dapat dinikmati sebagai sebuah budaya tertentu.
            Dalam ketiga fase tersebut orang harus mampu menyesuaikan diri, mampu mengambil bagian (ikut serta) dalam pengalaman/informasi dari pihak/orang lain. Tentu dengan cara yang menyenangkan yang ditampakkan oleh lintas budaya yang dinamis.

Monday, March 13, 2017

Kunci Sukses Wirausaha



WIRAUSAHA

1. Kunci Sukses Wirausaha

            Menurut Bob Sadino untuk menjadi seorang entrepreneur sukses, jangan jadi orang pintar yang banyak tahu saja. Tapi jadilah orang bodoh yang serba bisa. Kalau orang pintar tahu belum tentu bisa tapi kalau orang BISA sekalipun dia bodoh pasti dia tahu. Kesejatian seorang entrepreneur yaitu, menjadi manusia merdeka dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Bob mengingatkan untuk menjadi seorang entrepreneur pertama-tama harus berani menjadi manusia bebas merdeka. Kebebasan adalah jantungnya sang wiraswasta, the heart of the entrepreneur . Bebas dari belenggu rasa takut, bebas dari harapan berlebihan dan bebas dari belenggu pikiran sendiri. Berikut ini adalah arti kebebasan menurut Bob Sadino yaitu sebagai berikut.

1. Orang yang berwiraswasta harus berani membebaskan dirinya dari rasa takut . Banyak ragam rasa takut, seperti takut memulai usaha, takut ambil keputusan, takut ambil peluang, takut menanggung resiko, takut gagal, takut menderita, dan masih banyak lagi takut lainnya. Rasa takut tidak membawa seseorang beranjak sejengkal pun dari tempatnya yang semula. Oleh sebab itu, kalau mau bergerak lebih jauh, mau berpetualang di dunia wiraswasta, usir jauh-jauh belenggu rasa takut itu.

2. Terlalu banyak berharap . Jika mau berwiraswasta, buang jauh-jauh harapan yang terlalu berlebihan. Ini kedengarannya paradoks dengan anggapan umum bahwa harapanlah yang mendrive seseorang supaya dapat bertindak penuh semangat dan pantang menyerah. Bahkan dalam ilmu manajemen modern, harapan itu tidak ubahnya target atau sasaran pencapaian yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin maju. Disini harapan adalah bagian tidak terpisahkan dari rencana kesuksesan seseorang. Bob Sadino mengemukakan seorang entrepreneur jangan terlalu banyak berharap semakin banyak berharap semakin banyak kecewa, semakin sedikit berharap semakin sedikit kecewa. Menurutnya anjuran ilmu manajemen modern merupakan sebuah jebakan yang membahayakan. Bob Sadino mengharapkan untuk menjadi seorang entrepreneur harus membebaskan diri dari harapan – harapan berlebihan. Tanpa harapan berlebihan orang bisa berwiraswasta seperti tanpa beban sehingga langkah-langkah dan pilihan – pilihan menjadi lebih bisa dinikmati.

3. Pikiran sendiri
Banyak orang yang hendak menjadi entrepreneur tidak menyadari bahwa pikiran sendiri bisa sedemikian membelenggu atau menghambat langkah ke depan. Belenggu pikiran itu bisa berupa teori – teori, konsep – konsep, persepsi – persepsi, pengalaman – pengalaman atau bahkan keyakinan – keyakinan sendiri. Dimana belenggu pikiran itu berasal dari dalam diri. Bisa pula berasal dari luar.

2. Model Wirausaha Sukses di Indonesia (Bob Sadino)
Pekerjaan pertama yang dilakoni Bob Sadino setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan dengan upah harian Rp.100. Suatu hari, seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia. Catatan awal tahun 1985 menyebutkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.
3. Cara Menyikapi Kegagalan dalam Berwirausaha
            Bisnis merupakan usaha yang didalamnya terdapat, kesuksesan dan juga kegagalan. Ada sangat banyak faktor yang membuat bisnis yang sedang Anda jalankan sekarang ini, bisa berakhir dengan kegagalan. Banyak pebisnis yang jatuh bangun dalam menjalankan bisnisnya, namun ada yang berhasil ada juga yang gagal. Akan tetapi hal seperti itu tidak akan terjadi, apabila Anda menjalankan bisnis dengan konsep yang sangat matang. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, karena kegagalan justru bisa membuat Anda semakin kuat dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi. Ada 4 cara menghadapi kegagalan dalam bisnis, berikut 4 cara tersebut:
  1. Pikiran positif
Berpikir positif ini, tentunya sudah sering kali Anda dengarkan dan juga Anda lakukan. Tetapi, kenapa masih saja belum bisa membuat Anda bisa menghadapi kegagalan. Pikiran yang positif akan membantu Anda terlepas dari berbagai macam permasalahan, dan juga membantu Anda terhindar dari stress. Pada saat Anda menerima kegagalan, cobalah untuk tetap berpikir positif. Dengan tujuan, agar mental Anda akan terlatih dan juga semakin kuat.
  1. Mencari tahu penyebab kegagalan
Kegagalan dalam bisnis bukan tanpa sebab, maka dari itu Anda harus mencari tahu penyebab dari kegagalan bisnis Anda. Pada dasarnya, ada dua penyebab yang membuat bisnis Anda mengalami kegagalan. Yang pertama adalah faktor internal, dan yang kedua adalah faktor eksternal. Kedua penyebab ini selalu dihadapi oleh pebisnis, tetapi semuanya akan kembali lagi kepada Anda sendiri. Bagaimana Anda menyikapi dari kedua penyebab itu, apakah akan berdampak buruk atau malah sebaliknya.



  1. Mengatasi kegagalan
Setiap permasalahan atau kegagalan, selalu ada solusi untuk menyelesaikannya. Mengatasi kegagalan, bisa Anda pelajari dari setiap kegagalan dalam bisnis yang Anda jalankan. Mengatasi kegagalan, merupakan cara untuk Anda bangkit kembali dan memulai lagi apa yang sudah Anda kerjakan. Anda bisa mengatasi kegagalan Anda dengan berbagai cara dan berbagai tahap, dan semuanya cara tersebut akan sangat berguna untuk mengatasi kegagalan Anda dalam bisnis.
  1. Mencari peluang
Setelah Anda sudah mengeatahui dan mengatasi kegagalan Anda dalam bisnis. Maka berikutnya, Anda bisa mencari peluang lain untuk kembali berbisnis. Tidak ada pebisnis yang begitu menjalankan bisnisnya, akan langsung mendapatkan kesuksesan. Karena semuanya melalui sebuah proses, dan nikmatilah proses tersebut.