KLIK gambar untuk menutup Iklan

Friday, May 11, 2018

Etika Bisnis : contoh Kasus Rekayasa Genetika di Monsanto / Pharmacia


BAB I
PENDAHULUAN

Kasus 1 : Rekayasa Genetika di Monsanto / Pharmacia
            Monsanto merupakan perusahaan pelopor dalam bidang bioteknologi. Hasil rekayasa genetika pertama adalah kedelai dan tanaman kapas Roundup Ready (1994) yang kebal terhadap pembasmi rumput liar “Roundup”. Monsanto juga menggunakan rekayasa genetika untuk menghasilkan tanaman yang dapat menghasilkan bakteri (Bt) untuk membunuh predator serangga. Monsanto terlibat dalam sejumlah kontroversi salah satunya yaitu berkaitan dengan produk Roundup Ready kemungkinan menyebabkan terjadinya penyerbukan silang dengan rumput liar , menghasilkan rumput liar “super” yang kebal terhadap pembasmi rumput liar dan tersebar dengan cepat. Oleh sebab itu sejumlah perusahaan makanan Amerika menyatakan bahwa mereka tidak akan menggunakan bahan-bahan makanan hasil rekayasa genetika. Whole Foods Market mengumumkan bahwa mereka akan mengusulkan pemberian label khusus untuk makanan yang mengandung organisme hasil rekayasa genetika. Dalam menyatakan pembelaannya, Monsanto menegaskan bahwa produk tanaman mereka sepenuhnya aman dan terbukti sangat menguntungkan bagi lingkungan dan masyarakat. Perusahaan memasang artikel berjudul “Genetically Modified Nonsense” pada websitenya dan  mengatakan “Bioteknologi mendukung perubahan besar dalam metode produksi pertanian yang mengarah pada peningkatan hasil panen dan menurunnya penggunaan pestisida tradisional. Produk pertanian yang dipasarkan Mosanto telah melalui berbagai pengujian untuk menjamin bahwa makanan yang dihasilkan sama bergizinya dengan makanan yang dihasilkan dari tanaman varietas lain dan juga produk ini aman untuk lingkungan.”
Maka dari itu, dengan adanya kasus tersebut akan dibahas beberapa pertanyaan yaitu:
1.      Menurut penelitian anda, apa saja kewajiban Monsanto/Pharmacia untuk menunda pemasaran organisme-organisme hasil rekayasa genetika “sampai jangka panjang menunjukan bahwa produk mereka tidak berbahaya lagi bagi manusia, binatang, dan lingkungan”? kepada siapa kewajiban ini ditujukan?
2.      Analisis tindakan Monsanto/Pharmacia dalam kaitannya dengan pendekatan utilitarianisme, hak, keadilan dan memberi perhatian. Apakah perusahaan secara moral dibenarkan untuk terus memasarkan organism-organisme hasil rekayasa genetika?
3.      Bagaimana seharusnya perusahaan bersikap terhadap produk-produk seperti organisme rekayasa genetika apabila informasi tentang kemungkan resiko terhadap lingkungan masih terbatas atau tidak ada, namun produk tersebut menjanjikan keuntungan besar bagi manusia? Jelaskan jawaban Anda.

 

Kasus 2 : Perbedaan Gaji di Robert Hall

Robert Hall Clothes, Inc adalah toko eceran yang khusus menjual pakaian keluarga. Toko Robert Hall memiliki bagian khusus untuk menjual pakaian pria dan anak laki – laki serta memiliki bagian khusus yang lain untuk menjual pakaian perempuan dan anak perempuan. Perusahaan mengeluarkan kebijakan bahwa yang bekerja di bagian pakaian laki-laki adalah khusus untuk laki-laki saja, sedangkan yang bekerja di bagian pakaian perempuan khusus untuk perempuan saja. Pada umumnya kualitas pakaian laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas jenis pakaian perempuan. Sehingga harga untuk pakaian laki-laki juga jauh lebih tinggi dengan harga pakaian perempuan. Hal tersebut mengakibatkan marjin keuntungan dari penjualan pakaian laki-laki lebih tinggi dari marjin penjualan pakaian perempuan. Oleh karena itu, manajer Robert Hall memberikan gaji pegawai pria lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai perempuan. Gaji tersebut ditentukan dari tingkat keuntungan per jam per bagian. Manajemen Robert Hall menyatakan bahwa pegawai perempuan digaji lebih rendah daripada laki-laki karena komoditas yang dijual oleh pegawai perempuan nilainya tidak sama dengan nilai komoditas yang dijual oleh pegawai laki-laki. Padahal keahlian, usaha, dan tanggung jawab yang dibutuhkan pegawai laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan mereka secara substansial adalah sama.
Maka dari itu, dengan adanya kasus tersebut akan dibahas beberapa pertanyaan yaitu:
1.      Menurut Anda, apakah manajer di Robert Hall memiliki kewajiban etis untuk mengubah kebijakan pemberian gaji? Jika menurut Anda, mereka tidak perlu merubahnya, jelaskan mengapa kebijakan tersebut secara etis dapat dibenarkan, jika menurut  Anda perlu diubah, jelaskan mengapa mereka wajib mengubahnya dan perubahan apa yang perlu mereka lakukan. Dalam analisis Anda, apakah akan ada bedanya jika Robert Hall tidak hanya membuka satu toko dengan dua bagian, namun membuka dua toko, satu untuk pakaian pria satu untuk pakaian perempuan? Apakah akan ada bedanya jika kedua toko tersebut dimiliki oleh perusahaan yang berbeda? Jelaskan masing-masing jawaban Anda dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip etika yang relevan.
2.      Misalkan hanya ada sedikit pria yang melamar pekerjaan di Wilmington, sementara pelamar perempuan sangat banyak. Apakah faktor kompetitif ini dapat dipakai sebagai pembenaran untuk memberikan gaji yang lebih tinggi pada pegawai pria? Misalkan saja 95 persen perempuan di Wilmington yang melamar pekerjaan di toko tersebut adalah kepala rumah tangga dan punya anak, sementara 95 persen pria yang melamar belum berkeluarga. Apakah faktor kebutuhan ini dapat dipakai sebagai pembenaran untuk memberikan gaji yang lebih tinggi bagi pegawai perempuan dibandingkan pegawai pria? Mengapa? Dalam kaitannya dengan argumen bahwa pria dapat menjual lebih baik, apakah hal ini dapat dipakai sebagai pembenaran untuk memberikan gaji yang berbeda?
3.      Jika menurut Anda manajer Robert Hall harus memberikan gaji yang sama karena mereka melaksanakan pekerjaan yang “secara substansial sama”, apakah Anda juga berpikir bahwa gaji haruslah dihitung sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan (misalnya dengan menetapkan gaji berdasarkan komisi)? Mengapa? Apakah sistem komisi lebih baik dari sudut pandang utilitarian dengan mempertimbangkan pengeluaran pembukuan yang cukup besar untuk sistem ini? Dari sudut pandang kalian? Menurut Anda, apa arti secara substansial sama?


















BAB II
PEMBAHASAN KASUS


Kasus 1 : Rekayasa Genetika di Monsanto / Pharmacia
1.      Hal pertama yang wajib dilakukan oleh perusahaan saat menunggu hasil dari uji keamanan jangka panjang bahwa produk tersebut aman digunakan bagi manusia, binatang, dan lingkungan adalah sudah pasti dengan menunda pemasaran organisme-organisme hasil rekaya genetika tersebut. Dengan keputusan perusahaan menunda dan menunggu sampai hasil uji tersebut keluar, maka perusahaan disini sebagai oknum yang bertanggungjawab yang telah mengembangkan produk tersebut, telah melakukan kewajibannya untuk melindungi konsumen dari bahaya produk tersebut. Kosumen disini bisa diartikan sebagai manusia yang juga akan terkena dampak dari produk tersebut seandainya bila memang produk tersebut berbahaya.  Dalam kaitannya dengan konsumen (manusia), kewajiban tersebut adalah kewajiban untuk mematuhi dimana kewajiban mematuhi adalah kewajiban untuk memberikan suatu produk yang memang seharusnya diberikan (dengan karakteristik yang sesuai), dan dalam hal ini kewajiban untuk mematuhi berkaitan erat dengan keamanan suatu produk. Kemudian kewajiban selanjutnya adalah tentu kewajiban untuk melindungi binatang dan lingkungan, karena erat kaitannya dengan pelaksanaan etika ekologi. Etika ekologi pada dasarnya sangat mengedepankan tentang pentingnya menjaga sistem ekologi yang saling bergantung antara makluk hidup dan lingkungannya tetap berjalan dengan baik. Dalam hal ini kewajiban ditujukan kepada pemerintah dan kepada lembaga-lembaga pemerhati lingkungan.
2.      Dalam menganalisis suatu tindakan yang berhubungan dengan dasar etika untuk tanggung jawab terhadap lingkungan, kita perlu mengetahui pendekatan yang menjadi dasar etika tersebut. Antara lain pendekatan ultilitarianisme, hak, dan keadilan. Pada pendekatan ultilitarianisme dijelaskan bahwa suatu perbuatan atau aturan adalah baik, jika membawa kesenangan paling besar/banyak untuk jumlah orang paling besar/ banyak atau dengan kata lain jika memaksimalkan manfaat. Sangatlah jelas bahwa pelestarian lingkungan hidup membawa keadaan paling menguntungkan untuk seluruh umat manusia termasuk juga generasi-generasi yang akan datang.  Jika dampak atas lingkungan tidak diperhitungkan dalam biaya-manfaat, pendekatan itu menjadi tidak etis apalagi jika kerusakan lingkungan dibebankan pada orang lain. Berdasarkan pendekatan hak dijelaskan bahwa manusia memiliki hak moral atas segala sesuatu yang perlu untuk hidup dengan pantas sebagai manusia, artinya yang memungkinkan dia memenuhi kesanggupannya sebagai makhluk yang rasional dan bebas.  Jika kita memang mempunyai hak atas lingkungan yang berkualitas, bisa saja hak ini mengalahkan hak-hak lain termasuk mengalahkan hak seseorang atau hak milik pribadi beberapa orang. Sedangkan pada pendekatan keadilan harus dipahami sebagai keadilan distributif, artinya keadilan yang mewajibkan kita untuk membagi dengan adil. Dapat dikatakan tidak adil apabila kita memanfaatkan alam demikian rupa sehingga orang lain misalnya generasi-generasi yang akan datang tidak lagi bisa memakai alam untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan baik.  Berdasarkan pendekatan memberi perhatian bahwa perusahaan harus memberi perhatian yang memadai jika mereka melakukan langkah-langkah untuk mencegah pengaruh-pengaruh-pengaruh merugikan yang dapat diperkirakan terjadi akibat penggunaan produk mereka oleh konsumen, setelah melakukan pengamatan atas cara bagaimana produk digunakan dan setelah mengantisipasi sema kemungkinan kesalahan penggunaannya. Dalam kasus ini, memberi perhatian seharusnya bisa dilakukan oeh perusahaan dengan cara memberikan informasi yang akurat mengenai produk dan dampak apa saja yang bisa terjadi akibat penggunaan produk dalam jangka panjang. Keterkaitan ketiga pendekatan dengan kasus rekayasa genetika oleh perusahaan Monsanto/Pharmacia adalah
Permasalahan atau kontroversi perusahaan Monsanto/pharmacia
a.       Perusahaan Monsanto menggunakan teknologi baru untuk memastikan agar para petani terus membeli produk mereka setiap tahun.
b.      Menghasilkan ancaman lingkungan dari produk tanaman yang direkayasa secara genetika seperti munculnya rumput liar “super” yang kebal terhadap pembasmi rumput liar dan tersebar dengan cepat, menciptakan jenis-jenis infeksi yang kebal terhadap unsur antibiotik, berakibat fatal pada spesies kupu-kupu raja, dan dapat menciptakan organisme baru yang lebih berbahaya.
Jadi berdasarkan masalah-masalah yang ditimbulkan dapat dikatakan bahwa perusahaan Monsanto/Pharmacia secara moral tidak dibenarkan untuk terus memasarkan organisme-organisme hasil rekayasa genetika karena tidak memperhitungkan akibat yang ditimbulkan pada lingkungan, dan hanya memikirkan atau memberikan banyak manfaat pada beberapa orang dibandingkan dengan masyarakat umum khususnya petani.
3.      Perusahaan wajib untuk selalu mengedepankan perlindungan konsumen, termasuk juga lingkungan. Produk apapun yang dikeluarkan oleh perusahaan haruslah bersifat aman bagi konsumen dan lingkungan sekitar baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh sebab itu, maka perusahaan perlu melakukan riset untuk memastikan apakah produk tersebut aman digunakan atau memiliki dampak-dampak tertentu. Perusahaan tidak boleh hanya memikirkan keuntungan saja tanpa menginformasikan produk dan segala jenis dampak yang ditimbulkan. Maka dari itu, perusahaan harus menginformasikan secara lengkap tentang produk yang dimiliki sebelum dipasarkan di pasaran.

Kasus 2 : Perbedaan Gaji di Robert Hall
1.    Menurut kelompok kami, manajer di Robert Hall memiliki kewajiban etis untuk mengubah kebijakan pemberian gaji. Karena dilihat dari kasus di atas pemberian gaji antara pegawai perempuan dengan pegawai pria bisa dikatakan tidak adil dan merupakan tindakan diskriminasi. Padahal antara pegawai perempuan dengan pegawai pria memiliki keahlian, usaha, dan tanggung jawab yang secara substansial adalah sama. Oleh karena itu mereka harus mengubah kebijakan tersebut dengan cara menggabungkan pendapatan dari kedua toko tersebut lalu hasilnya dibagi sama rata terhadap semua pegawai baik pria maupun wanita. Hal tersebut dilakukan agar sesuai dengan salah satu prinsip etika bisnis yakni prinsip keadilan, dimana prinsip ini menyatakan bahwa keadilan menuntut agar setiap orang/pihak dalam bisnis diperlakukan secara adil dan tidak boleh dirugikan hak dan kepentingannya. Selanjutnya, jika Robert Hall membuka dua toko, satu untuk pakaian pria dan satu lagi untuk pakaian perempuan menurut kami tetap saja Robert Hall dikatakan melanggar prinsip keadilan jika keahlian, usaha, dan tanggung jawab yang dibutuhkan pegawai pria dan perempuan dalam pekerjaan mereka secara substansial adalah sama. Namun, lain halnya jika pegawai pria memiliki proporsi kerja yang lebih berat dibandingkan pegawai perempuan maka perbedaan gaji pegawai pria yang lebih besar tidaklah menjadi masalah dan bukan merupakan tindakan diskriminasi tenaga kerja.  Apabila kedua toko dimiliki oleh perusahaan yang berbeda, maka menurut kami adanya perbedaan gaji tidak menjadi masalah. Hal tersebut karena masing – masing perusahaan memiliki kebijakan sendiri – sendiri. Pemberian gaji kepada karyawan pada dasarnya ditentukan oleh tingkat keuntungan yang diperoleh oleh masing – masing perusahaan. Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh, maka semakin tinggi pula gaji yang akan diberikan oleh perusahaan, begitu juga sebaliknya.
2.    Menurut kelompok kami, apabila hanya ada sedikit pria yang melamar pekerjaan di Wilmington sementara perempuan yang melamar lebih banyak, faktor kompetitif ini tidak dapat dijadikan dasar oleh Robert Hall untuk memberikan gaji yang lebih besar kepada pegawai perempuan. Jika seandainya Robert Hall menggunakan proporsi tingkat pelamar tenaga kerja dalam menentukan besar gaji yang diberikan, itu berarti Robert Hall telah melakukan tindakan diskriminasi terhadap pegawainya karena Robert Hall memberikan hak yang lebih istimewa berupa gaji yang lebih tinggi kepada pegawai pria padahal tugas antara pegawai pria dan perempuan adalah sama. Keputusan tersebut juga dapat merugikan pegawainya karena pemberian gaji tidak berdasarkan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Dari kasus diatas diandaikan jika 95% perempuan di Wilmington yang melamar pekerjaan di toko tersebut adalah kepala rumah tangga dan punya anak, sementara 95% pria yang melamar belum berkeluarga. Faktor kebutuhan ini juga tidak dapat digunakan untuk memberikan gaji yang lebih tinggi kepada pegawai perempuan karena tindakan tersebut juga merupakan tindakan diskriminasi yaitu membeda-bedakan gaji antar pegawai berdasarkan karakteristik lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya. Untuk mengatasi hal ini maka hal yang dapat dilakukan oleh Robert Hall adalah memberikan dua jenis gaji yaitu gaji pokok dan tunjangan. Gaji pokok diterima oleh semua pegawai sedangkan tunjangan hanya diberikan kepada pegawai baik perempuan maupun laki-laki yang sudah memiliki keluarga dan memiliki tanggungan dengan standar yang sudah ditentukan. Sehingga dengan kebijakan tersebut semua pegawai memperoleh hak yang sama atas tugas yang sama tanpa melanggar haknya maupun prinsip-prinsip keadilan. Bila dikaitkan dengan argumen bahwa pegawai pria dapat menjual pakaian lebih baik dibandingkan pegawai perempuan, hal ini juga kurang tepat digunakan untuk memberikan gaji yang berbeda kepada pegawai pria karena pada dasarnya gaji tersebut diberikan kepada setiap pegawai secara periodik dengan jumlah yang telah ditetapkan pada pertama kali bekerja. Sehingga yang dapat dilakukan dalam situasi seperti ini adalah memberikan bonus kepada pegawai laki-laki yang dapat menjual lebih baik.
3.    Menurut kelompok kami, dalam kasus ini gaji seharusnya dibagikan secara merata kepada seluruh pegawai. Apabila mereka melakukan pekerjaan yang sama, namun mendapatkan gaji yang berbeda maka Robert Hall telah melakukan diskriminasi terhadap pegawainya. Berbeda halnya jika tugas tiap pegawai itu berbeda kemudian dilakukan pembagian gaji yang berbeda pula, maka hal tersebut bukan termasuk diskriminasi. Untuk memberikan apresiasi terhadap pegawai yang melakukan pekerjaan dengan tingkat yang lebih rumit atau mencapai target yang direncanakan, sebaiknya digunakan sistem komisi atau bonus. Dengan adanya sistem komisi, maka Robert Hall dapat mengukur kinerja setiap pegawai sekaligus dapat memacu kinerja para pegawai untuk mencapai penjualan melebihi standar yang telah ditetapkan perusahaan. Sehingga pegawai yang tidak mendapat komisi dapat terpacu untuk bekerja lebih giat agar memperoleh komisi tersebut, dan bagi pegawai yang sudah mendapatkan komisi juga harus tetap bekerja dengan giat agar komisi yang diperolehnya bisa ditingkatkan. Apabila mempertimbangkan pengeluaran pembukuan untuk sistem komisi, sistem ini lebih baik dari sudut pandang utilitarian karena komisi yang diberikan itu berdasarkan persentase hasil penjualan. Semakin tinggi persentase hasil penjualan dari seorang pegawai, maka semakin tinggi pula komisi yang diterima oleh pegawai tersebut. Sehingga pengeluaran untuk membayar komisi setiap pegawai tidaklah sama dan juga tidak dilakukan secara periodik (dalam selang waktu yang tetap).
Menurut kami, secara substansial sama itu memiliki arti bahwa pada inti atau kenyataannya adalah sama. Apabila dikaitkan dengan penyataan pada kasus diatas, berarti pada kenyataannya baik pegawai laki-laki maupun perempuan memerlukan keahlian, usaha, dan tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan yang mereka lakukan.














BAB III
SIMPULAN


 Kasus 1 : Rekayasa Genetika di Monsanto / Pharmacia
Hasil Rekayasa Genetika harus tetap selalu diuji dengan berbagai ilmu pengetahuan yang terus berkembang agar memastikan berbagai dampak yang bisa terjadi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kasus mengenai Rekayasa Genetika di Monsanto/Pharmicia merupakan suatu pelajaran bahwa suatu produk sekalipun mampu menjanjikan keuntungan yang besar untuk manusia, namun bila informasi atau pengetahuan mengenai dampak-dampak apa saja yang akan terjadi di masa depan belum pasti, maka perusahaan wajib menunda pemasaran sampai kepastian akan informasi tersebut terjawab. Manusia, binatang, dan lingkungan akan menjadi yang pertama yang akan menerima dampak negatif bila produk tersebut memang berbahaya.  Baik etika perlindungan konsumen maupun etika lingkungan hidup harus selalu dijunjung tinggi agar keselamatan mahkluk hidup bisa menjadi tujuan yang utama.


Kasus 2 : Perbedaan Gaji di Robert Hall
Dalam kasus tersebut Robert Hall dapat dikatakan telah bertindak diskriminasi. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan gaji yang diberikan antara pegawai pria dan perempuan, padahal secara substansial keahlian, usaha, dan tanggung jawab yang meeka butuhkan adalah sama. Untuk itu, Robert Hall harus mengubah kebijakan pemberian gaji tersebut dengan cara menggabungkan pendapatan dari kedua toko tersebut lalu hasilnya dibagi sama rata terhadap semua pegawai baik pria maupun wanita, hal itu dilakukan agar sesuai dengan salah satu prinsip etika bisnis yakni prinsip keadilan. Selanjutnya, pemberian gaji oleh Robert Hall dikatakan diskriminatif, karena pembagiannya diberikan dalam jumlah yang berbeda untuk para pegawai yang melakukan tugas dan pekerjaan yang sama, serta berdasarkan jenis kelamin, faktor kebutuhan, ras, agama, atau karakteristik lain yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Oleh karena itu, sistem komisi sangat efektif jika digunakan, karena pemberian komisi kepada setiap pegawai itu berbeda – beda sesuai dengan persentase hasil penjualannya. Jadi sistem komisi tepat digunakan untuk memacu dan mengukur kinerja pegawai agar nantinya dapat meningkatkan hasil penjualan serta memperoleh komisi.

DAFTAR PUSTAKA


Velasquez, Manuel G.  2005.  Etika Bisnis; Konsep dan Kasus.  Edisi 5. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Sutrisna Dewi. 2011. Etika Bisnis : Konsep Dasar Implementasi & Kasus. Cetakan Pertama.Udayana University Press. Denpasar






















No comments:

Post a Comment