KLIK gambar untuk menutup Iklan

Showing posts with label MANAJEMEN. Show all posts
Showing posts with label MANAJEMEN. Show all posts

Monday, June 10, 2019

Pengertian Distribusi Pendapatan


Pengertian Distribusi Pendapatan

Distribusi atau pembagian adalah klasifikasi pembayaran-pembayaran berupa sewa, upah, bunga modal dan laba, yang berhubungan dengan tugas-tugas yang dilaksanakan oleh tanah, tenaga kerja, modal dan pengusaha-pengusaha.Ia adalah proses penentuan harga yang dipandang dari sudut si penerima pendapatan dan bukanlah dari sudut si pembayar biaya-biaya. Distribusi juga berarti sinonim untuk pemasaran (marketing). Kadang-kadang ia dinamakan sebagai functional distribution.
Distribusi pendapatan merupakan kriteria yang mengindikasikan mengenai penyebaran atau pembagian pendapatan atau kekayaan antar penduduk satu dengan penduduk lainnya dalam wilayah tertentu.
Distribusi pendapatan merupakan salah satu isu yang sentral dalam pembahasan tentang peran negara dalam perekonomian.Hal ini disebabkan karena distribusi pendapatan seringkalu dihubungkan dengan keadilan.Ketimpangan pendapatan yang disebabkan oleh tidak meratanya distribusi pendapatan menyebabkan sekelompok orang terjerat dalam kemiskinan.
Distribusi pendapatan menurut para ahli ekonomi dapat dibedakan antara lain :
1.                  Distribusi pendapatan perseorangan
Distribusi pendapatan perseorangan menunjukkan distribusi pendapatan yang diterima oleh individu-individu dalam masyarakat. Fokus dalam model distribusi ini yaitu seberapa besar pendapatan yang diterima oleh seseorang, tidak melihatk teknik/cara yang dilakukan oleh individu/rumah tangga untuk memperoleh pendapatannya, banyaknya anggota rumah tangga yang mencari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya atau apakah penghasilan tersebut berasal dari pekerjaan atau sumber lainnya seperti bunga, hadiah, royalti, keuntungan maupun warisan. Lokasi dan sektor sumber pendapatan juga turut diabaikan.
2.                  Distribusi Pendapatan Fungsional
Distribusi Pendapatan Fungsional menjelaskan proporsi dari pendapatan yang diterima oleh tiap faktor produksi.Setiap faktor produksi memperoleh imbalan sesuai dengan distribusinya pada produksi nasional. Distribusi Pendapatan yang didasarkan pada pemilik faktor produksi ini akan berkaitan dengan proses pertumbuhan pendapatan. Pertumbuhan pendapatan dalam masyarakat yang didasarkan pada kepemilikan faktor produksi dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
a) Pendapatan karena hasil kerja yang berupa upah/gaji dan besarnya tergantung tingkat produktivitas.
b) Pendapatan dari sumber lain seperti sewa, laba, royalti, bunga, hadiah/warisan.

Friday, April 13, 2018

PEMBENTUKAN MODAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI


PEMBENTUKAN MODAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI

ARTI PEMBENTUKAN EKONOMI
Hampir semua ahli ekonomi menekankan arti penting pembentukan modal (capital formation) sebagai penentu utama pertumbuhan ekonomi.Arti pembentukan modal adalah  bahwa masyarakat tidak mempergunakan seluruh aktivitas produktifnya saat ini untuk kebutuhan dan keinginan konsumsi,tetapi menggunakan sebagian saja untuk pembuatan barang modal.Jadi istilah pembentukan modal meliputi modal material dan modal manusia.
PENTINGYA PEMBENTUKAN MODAL
Pembentukan atau pengumpulan modal dipandang sebagai salah satu factor dan sekaligus faktor utama di dalam pembangunan ekonomi.Menurut Nurkse,lingkaran setan kemiskinan di Negara terbelakang dapat di gunting melalui pembentukan modal.Jadi pembentukan modal menghasilkan kenaikan besarnya output nasional,pendapatan dan pekerjaan,dengan demikian memecahkan masalah inflasi dam neraca pembayaran,serta membuat perekonomian bebas dari beban utang luar negri.
Tujuan pokok pembangunan ekonomi ialah untuk membangun peralatan modal dalam skala yang cukup untuk meningkatkan produktivitas di bidang pertanian,pertambangan,perkebunan dan industry.Modal  juga  diperlukan untuk mendirikan sekolah,rumah sakit,jalan raya,kereta api,dan sebagainya.Singkatnya.hakikat pembangunan ekonomi adalah penciptaan modal overhead social dan ekonomi.Lebih jauh pembentukan modal membuat pembangunan menjadi mungkin,kendati dengan penduduk yang meningkat.Pembentukan modal juga mempengaruhi kesejahteraan ekonomi suatu bangsa.Ia membantu memenuhi segala sesuatu yang diperlukan oleh penduduk yang makin meningkat.Kalau pembentukan modal menyebabkan penggunaan sumber alam secara tepat dan pendirian berbagai jenis industry,maka tingkat pendapatan bertambah dan berbagai macam kebutuhan rakyat terpenuhi.Mereka menikmati berbagai macam komoditi,standar hidup meningkat,juga kesejahteraan ekonomi.
Akhirnya,kenaikan laju pembentukan modal menaikkan tingkat pendapatan nasional.Proses pembentukan modal tersebut membantu menaikkan output yang pada gilirannya menaikkan laju dan tingkat pendapatan nasional.Jadi kenaikan laju dan tingkat pendapatan nasional tergantung pada kenaikan laju pembentukan modal.Dengan demikian pembentukan modal merupakan jalan keluar utama dari masalah rumit negara tebelakang,dan kunci utama menuju pembangunan ekonomi.
SEBAB-SEBAB RENDAHNYA LAJU PEMBENTUKAN MODAL
Di negara terbelakang tingkat pembentukan umumnya rendah.Alasannya karena negara tesebut kekurangan faktor-faktor yang menentukan pembentukan modal.Pembentukan modal tergantung pada tabungan,pada lembaga yang mengerahkan tabungan,dan pada penginvestasian tabungan.
Alasan pokok rendahnya tingkat pembentukan modal di Negara terbelakang adalah sebagai berikut :
·         Produktivitas rendah.
·         Pendapatan rendah.
·         Alasan kependudukan.
·         Kekurangan Wiraswasta.
·         Kekurangan overhead ekonomi.
·         Kekurangan peralatan  modal.
·         Kesimpangan dalam distribusi pendapatan.
·         Pasar Sempit.
·         Kekurangan Lembaga Keuangan.
·         Keterbelakangan ekonomi.
·         Keterbelakangan Teknologi.
·         Anggaran deficit.
·         Kenaikan Pajak.
·         Demonstration Effect.
SUMBER-SUMBER TABUNGAN
Tabungan itu dipergunakan sebagian besar dengan tujuan menaikkan gengsi seperi konsumsi mewah pada benda-benda tradisional,gedung-gedung istana yang dilengkapi dengan alat perlengkapan bergaya Barat dan pada mobil-mobil mewah.
Sumber penting lainnya ialah tabungan bisnis dan tabungan perusahaan dalam bentuk keuntungan yang didistribusikan dan yang tidak didistribusikan.Yang terakhir,tetapi bukannya tidak penting,ialah peranan pemerintah sebagai penabung.”Salah satu cirri pertumbuhan ekonomi yang tidak dapat diragukan lagi ialah naiknya sumbangan pemerintah di dalam pendapatan nasional.Jadi kemampuan pemerintah di Negara terbelakang untuk menabung adalah terbatas karena rendahnya tingkat pendapatan dan besarnya pengeluaran untuk administrasi.
SUMBER-SUMBER PEMBENTUKAN MODAL
Proses pembentukan modal menyangkut  tiga langkah :
·         Meningkatkan volume tabungan nyata.
·         Mengerahkan tabungan melalui lembaga kredit dan keuangan.
·         Menginvestasikan tabungan.
Jadi masalah pembentukan modal di Negara terbelakang menjadi dua kali lipat : satu,bagaimana meningkatkan kecenderungan menabung penduduk kelompok berpendapatan rendah,dan dua,bagaimana mempergunakan tabungan uang bagi pembentukan modal.
Sumber internal dan eksternal pembentukan modal  yaitu :
1)      Sumber domestik pembentukan modal adalah sebagai berikut :
·         Kenaikan Pendapatan Nasional.
·         Penggalakan Tabungan.
·         Pendirian Lembaga Keuangan.
·         Tabungan Desa.
·         Simpanan Emas.
·         Memperhatikan Kepincangan Pendapatan.
·         Peningkatan Keuntungan.
·         Tindakan Fiskal (Pajak dan Pinjaman Publik).
·         Inflasi.
·         Keuntungan Badan Usaha Negara.
·         Pemanfaatan Pengangguran Tersembunyi.

2)      Sumber eksternalnya adalah :
·         Bantuan Luar Negri.
·         Perbatasan Import.
·         Terms Of Trade yang Menguntungkan.
Keseimpulannya , pembentukan modal dengan demikian merupakan factor penentu penting dalam pembanguna ekonomi.Akan tetapi terlalu naïf kalau menganggap pambangunan ekonomi semata-mata sebagai masalah pembentukan modal,tanpa mengindahkan factor politik,social,budaya,teknologi,dan wiraswasta.





















.








Wednesday, March 1, 2017

STRATEGI PEMASARAN RITEL



Ø  STRATEGI PEMASARAN RITEL
3.1 PENGERTIAN STRATEGI PEMASARAN RITEL
Strategi pemasaran ritel adalah pernyataan yang menjelaskan tentang beberapa hal berikut ini : (1) target pasar ritel (2) format yang direncanakan (3) dasar perencanaan ritel untuk memperoleh keuntungan bersaing yang dapat dipertahankan (sustainable competitive advantage) , di mana pengertian target pasar dapat diperjelas dengan definisi sebagai berikut, yaitu segmen atau kelompok pasar atau pelanggan yang direncanakan oleh peritel untuk dilayani, terkait dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki dan sekaligus yang harus disiapkan oleh peritel. Segmen atau kelompok pelanggan tersebut harus sudah didentifikasikan dengan jelas, sehingga kebutuhan dan keingginannya dapat dipahami dan disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki maupun yang harus disiapkan oleh peritel. Sedangkan format ritel adalah gabungan ritel didasarkan pada sifat atau ciri barang dagangan dan jasa yang ditawarkan. Sedangkan pengertian keunggulan bersaing yang dapat dipertahankan adalah keuntungan dari persaingan yang dapat dipertahankan dalam jangka waktu panjang.
3.2 BAURAN PEMASARAN RITEL
            Bauran ritel adalah kombinasi elemen-elemen produk, harga, lokasi, personalia, promosi, presentasi, atau tampilan untuk menjual barang dan jasa pada konsumen akhirn yang menjadi pasar sasaran. Pembahasan masing-masing elemen dalam bauran ritel akan dirinci dalam bab-bab tersendiri.
            Tujuh kesempatan yang penting bagi ritel untuk mengembangkan keuntungan bersaing yang bisa dipertahankan adalah: loyalitas konsumen, lokasi, manajemen sumber daya manusia(SDM), sistem distribusi dan informasi, barang dagangan yang unik, hubungan para pedagang dan layanan konsumen.
3.3 MENGEMBANGKAN KEUNGGULAN BERSAING
            Mengembangkan keungugulan bersaing berarti ritel membangun sebuah dinding di sekitar posisinya pada pasar ritel. Hal ini membuat para pesaing sulit keluar dari dinding atau pembatas untuk menghubungkan konsumen pada target pasar ritel. Elemen terakhir dalam strategi ritel adalah pendekatan-pendekatan untuk mengembangkan keuntungan bersaing yang bisa dipertahankan atau berkelanjutan dalam jangka panjang. Segala kegiatan bisnis yang dijalankan ritel dapat menjadi dasar untuk keuntungan bersaing, namun keuntungan harus bisa dipertahankan dalam jangka waktu lama.
-          Loyalitas konsumen
Loyalitas konsumen berarti bahwa konsumen bersedia untuk berbelanja di lokasi ritel. Dasar yang digunakan untuk mempertahankan keunggulan brang bersaing, juga membantu menarik perhatian dan mempertahankan para konsumen yang loyal. Contohnya, konsumen yang loyal akan terus berbelanja pada satu ritel tertentu meskipun ritel pesaing telah membuka tokonya di dekat lokasi perumahan dan memberi harga yang lebih rendah.
Beberapa cara dalam membangun loyalitas adalah dengan :
1. mengembangkan strategi yang  jelas dan tepat,
2. menciptakan hubungan emosionla dengan para konsumen melalui program loyalitas
-          Program loyalitas
Program loyalitas adalah bagian dari keseluruhan manajemen hubungan antar konsumen. Program ini umumnya dijalankan dalam bisnis ritel. Program loyalitas bekerja sama dengan CRM (customer relantionship marketing). Anggota-anggota program loyalitas diketahui saat mereka membeli, karena mereka menggunakan beberapa tipe kartu loyalitas. Informasi pembelian disimpan dalam gudang data yang besar yang barang dan jasa apa yang dibeli oleh sekelompok konsumen.
-          Lokasi
Lokasi adalah faktor utama dalam pemilihan toko konsumen. Hal ini juga merupakan keuntungan bersaing yang  tidak dengan mudah ditiru. Contohnya, carefour yang selalu menentukan lokasi didaerah strategis. Menemukan lokasi yang yang bagus secara khusus sangat menantang pesaing. Melalui pemilihan lokasi yang tepat mempunyai keuntungan yaitu, pertama, merupakan komitmen sumber daya jangka panjang yang dapat mengurangi fleksibilitas masa depan ritel itu sendiri. Kedua, lokasi akan mempengaruhi pertumbuhan bisnis ritel pada masa yang akan datang. Namun, lingkungan riitel dapat saja berubah setiap waktu. Jika nilai lokasi memburuk, maka ritel mungin saja harus dipindahkan atau ditutup dengan segala resiko yang harus diperhitungkan kembali.
-          Manajemen sumber daya manusia
Ritel adalah bisnis tenaga kerja intensif. Para pegawai memiliki peranan penting dalam memberikan layanan pada konsumen dan membangun loyalitas konsumen. Pegawai yang berpengetahuan dan ahli, berusaha mewujudkan tujua-tujuan ritel yaitu aset-aset penting yang mendukung keberhasilan perusahaan.
-          Sistem distribusi dan informasi
Sistem ritel berusaha untuk melakukan pengelolaan yang efisien. Mereka terus memenuhi kebutuhan konsumen. Pada saat yang sama, memberi mereka barang-barag dengan harga lebih rendah dari pada pesaing-pesaingnya atau memutuskan untuk menggunakan kesempatan guna menarik perhatian konsumen dari para pesaing dengan menawarkan jasa yang lebih baik.
-          Barang-barang yang unik
Sangat sulit bagi ritel untuk mengembangkan keuntungan bersaing melalui barang-barang karena para pesaing dapat membeli dan menjual merek-merek nasional yang sama terkenalnya.
-          Hubungan pedagang atau penjual
Dengan mengembangkan hubungan yang kuat dengan para pedagang atau penjual, ritel bisa mendapatkan hak-hak eksklusif yaitu, untuk menjual barang-barang di sebuah daerah, untuk meendapatkan istilah-istilah khusus dan membeli yang tidak tersedia untuk para pesaing yang kekurangan dalam hal tersebut, untuk menerima barang-barang terkenal dalam pengiriman yang singkat.
-          Layanan konsumen
Beberapa ritel menawarkkan layanan-layanan pada konsumen yang tidak benar-benar mereka inginkan, tetapi membuat konsumen melakukan pembelian barang. Sangatlah membutuhkan waktu dan usaha untuk membangun sebuah tradisi dan reputasi untuk layanan konsumen, tetapi layanan yang bagus adalah aset strategis yang berharga.
3.4 STRATEGI PERTUMBUHAN
Empat tipe kesempatan pertumbuhan yang diusahakan oleh ritel yaitu penembusan pasar, peluang pasar, perkembangan format ritel, dan diverifikasi.
-          Pertumbuhan pasar
Pertumbuhan pasar meliputi usaha-usaha langsung terhadap konsumen yang telah ada dengan menggunakan format ritel sekarang.
-          Peluasan pasar
Kesempatan perluasan pasar menggunakan format ritel yang ada dalam segmen pasar baru.
-          Pengembangan format ritel
Kesempatan pengembangan format ritel meliputi penawaran format ritel baru, format dengan gabungan ritel yang berbeda pada target pasar yang sama.
-          Diverifikasi
Kesempatan diverifikasi adalah saat ritel memperkenalkan format ritel baru secara langsung pada segmen pasar yang tidak termasuk.

3.5 PERENCANAAN STRATEGIS PEMASARAN RITEL
-          Jelaskan tujuan bisnis atau misi bisnis
Pernyataan misi adalah gambaran atau penjelasan yang luas tentang tujuan ritel dan lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan.
-          Laksanakan pemeriksaan situasi
Audit situasi adalah suatu kegiatan untuk melakukan analisis kesempatan dan ancaman dalam lingkungan ritel dan kelebihan serta kekurangan bisnis ritel.
-          Jelaskan kesempatan-kesempatan strategis
Setelah menyelesaikan audit situasi, langkah berikutnya adalah menjelaskan kesempatan dalam meningkatkan penjualan ritel
-          Evaluasi kesempatan strategis
Evaluasi ini menentukan kemungkinan ritel untuk meningkatkan keuntungan bersaing yang dipertahankan dan keuntungan jaangka panjanf dari kesempatan dengan evaluasi
-          Menentukan tujuan-tujuan khusus dan mengalokasi sumber daya
Setelah mengevaluasi, langkah berikut adalah proses perencanaan strategis. Proses perencanaan strategis adalah menentukan tujuan khusus untuk tiap kesempatan. Tujuan khusus ini memiliki tiga komponen :
1. pengelolaan, termasuk adanya kemajuan yang bisa diukur
2. kerangka waktu di masa tujuan harus dicapai
3. tingkat investasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
-          Kembangkan penggabungan ritel untuk melaksanakan strategi
Langkah dalam proses perencanaan adalah menggembangkan penggabungan ritel untuk tiap kesempatan dimana investasi akan dilakukan untuk mengendalikan dan mengevaluasi pengelolaan.
-          Evaluasi pengelolaan dan buat penyesuaian
Jika ritel memenuhi atau melebih-lebihkan tujuan, perubahannya tidak diperlukan tetapi jika ritel gagal memenuhi tujuan, analisis ulang diperlukan. Analisis ulang ini dimulai dengan peninjauan program-program pelaksanaan, tetapi juga bisa menunjukan bahwa kebutuhan atau perlunya strategi harus dipertimbangkan ulang.

Wednesday, February 22, 2017

RUANG LINGKUP DAN PARADIGMA BISNIS RITEL DI INDONESIA



“RUANG LINGKUP DAN PARADIGMA BISNIS RITEL DI INDONESIA”

1.1 PENGERTIAN BISNIS RITEL
                Kata Ritel berasal dari bahasa Perancis, riteller, yang berarti memotong atau memecah sesuatu. Terkait dengan aktivitas yang dijalankan, maka ritel menunjukkan upaya untuk memecah barang atau produk yang dihasilkan dan didistribusikan oleh manufaktur atau perusahaan dalam jumlah besar dan masssal untuk dapat dikonsumsi oleh konsumen akhir. Pemahaman ritel menjadi sangat lekat dengan makna “ritel” dari kuantitas barang dalam jumlah besar seperti dozen atau pack menjadi kuantitas barang satuan.
            Bisnis ritel dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan  penggunaan bisnis. Ritel juga merupakan salah satu perangkat dari aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk dan layanan penjualan kepada konsumen dalam penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun kelompok.
            Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk dan jasa kepada para konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi, tetapi bukan untuk keperluan bisnis dengan memberikan upaya terhadap penambahan nilai terhadap barang dan jasa tersebut, Ritel juga menyediakan pasar bagi para produsen untuk menjual produk-produk mereka. Dengan demikian, ritel adalah kegiatan terkahir dalam jalur distribusi dalam yang menghubungkan produsen dengan konsumen. Para produsen manufaktur menjual produk-produk kepada peritel maupun ritel besar(wholesaler). Hal ini akan membentuk suatu jalur distribusi, antara produsen ke konsumen akhir.

alur Distribusi Barang Dagangan










 

Ritel merupakan mitra dari agen atau distributor yang memiliki nama lain wholesaler (pedagang partai besar). Jalur distribusi dagang sering disebut sebagai saluran penjualan tradisional, karena masing-masing pihak memiliki tugas yang terpisah. Perusahaan atau pabrikan mempunyai tugas untuk mendesain,membuat,memberi merek,menetapkan harga,mempromosikan dan menjual, dan tidak menjual langsung pada konsume
·         PARADIGMA RITEL TRADISIONAL DAN RITEL MODERN
Paradigma ritel traditional merupakan pandangan yang menekankan pengelolaan ritel dengan menggunakan pendekatan konvensional dan tradisional. Bisnis ritel dikelola dengan cara-cara yang lebih menekankan pada “hal yang bisa disiapkan oleh pengusaha tetapi kurang berfokus pada bagaimana kebutuhan dan keinginan konsumen dipahami dan bahkan dipenuhi”. Beberapa ciri dari paradigma pengelolaan ritel traditional adalah sebagai berikut :
1. Kurang memilih lokasi
Lokasi merupakan faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam penglolan ritel.
2. Tidak mempertimbangkan potensi kembali
Pengukuran dan prediksi potensi pembeli merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya, bahkan sangat saling berkaitan.
            3. Jenis barang dagangan yang tidak terarah
Salah satu aspek daya tarik bisnis ritel bagi pelanggan adalah keragaman barang dagangan,baik dari sisi banyaknya jenis klasifikasi barang dagangan, maupun variiasi merek untuk setiap kategori barang dagangan.
            4. Tidak ada seleksi merek
Pelanggan ritel telah menjadi sasaran iklan dari produsen barang dagangan dengan merek-merek tertentu.
            5. Kurang memperhatikan pemasok
Seleksi terhadap pemasok merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam bisnis ritel.
            6. Melakukan pencatatan penjualan sederhana
Sebagaian ritel tradisional melakukan pencatatan penjualan secara sederhana, bahkan banyak peritel tradisional yang tidak melakukan pencatatan penjualan sama sekali.
            7. Tidak melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk
Sebagai implikasi lanjutan dari tidak terarahnya barang dagangan dan tidak dilakukannya pencatatan penjualan, maka ritel tradisional dihadapkan pada kendala untuk melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk.
            8. Arus kas tidak terencana
Pengelolaan aliran dana tunai merupakan hal yang sangat penting dalam bisnis ritel.
            9. Pengembangan bisnis tidak terencana
Konsidi ritel tradisional yang terkendala karena rendahnya control dan mekanisme untuk melakukan evaluasi usaha mengakibatkan peritel tradisional sering kali tidak mampu melakukan perencanaan yang matang dalam melakukan pengembangan bisnisnya.
·         PARADIGMA RITEL MODERN
            Paradigma ritel modern merupakan pandangan yang menekankan pengelolaan ritel dengan menggunakan pendekatan modern di mana konsep pengelolaan ritel lebih ditekankan dari sisi pandang pemenuhan konsumen yang menjadi pasar sasarannya. Beberapa ciri dari paradigma pengelolaan ritel modern adalah :
            1. Lokasi strategis merupakan faktor penting dalam bisnis ritel
            2. Prediksi cermat terhadap potensi kembali
            3. Pengelolaan jenis barang dagangan terarah
            4. Seleksi merek sangat ketat
            5. Seleksi ketat terhadap pemasok
            6. Melakukan pencatatan penjualan dengan cermat
            7. Melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk
            8. Arus kas terencana
            9. Pengembangan bisnis terencana
1.2 FUNGSI-FUNGSI YANG DIJALANKAN RITEL
            Ritel memiliki fungsi-fungsi yang dapat meningkatkan nilai produk dan jasa yang mereka jual pada konsumen dan memudahkan distribusi produk tersebut bagi mereka yang memproduksinya. Fungsi tersebut antara lain sebagai berikut :
            1. Menyediakan berbagai macam produk dan jasa
Konsumen selalu mempunyai pilihan sendiri-sendiri terhadap berbagai macam produk dan jasa yang dibutuhkan. Contohnya, supermarket menyediakan produk makanan,kesehatan,perawatan kecantikan, dan produk rumah tangga,sedangkan department store menyediakan berbagai macam kain, aksesoris dan produk pakaian.
            2. Memecah
Memecah (breaking bulk) di sini berarti memecah beberapa ukuran produk menjadi lebih kecil, yang akhrinya menguntungkan produsen dan konsumen. Jika produsen memproduksi barang dan jasa dalam ukuran besar, maka harga barang atau jasa tersebut menjadi tinggi.
            3. Perusahaan penyimpan persediaan
Ritel juga dapat berposisi sebagai perusahaan yang menyimpan stok atau persediaan (holding inventory) dengan ukuran lebih kecil. Dalam hal ini, pelanggan akan diuntungkan karena terdapat jaminan ketersediaan barang atau jasa yang disimpan ritel.
            4. Penghasil jasa
Dengan adanya ritel, maka konsumen akan mendapat kemudahan dlam mengonsumsi produk yang dihasilkan produsen. Selain itu, ritel juga dapat mengantar produk hingga dekat ke tempat konsumen.
            5. Meningkatkan nilai produk dan jasa
Dengan adanya beberapa jenis barang atau jasa, maka untuk suatu aktivitas pelanggan yang memerlukan beberapa barang, pelanggan akan membutuhkan ritel karena tidak semua barang dijual dalam keadaan lengkap.
1.3 KLASIFIKASI BISNIS RITEL
Ritel dapat diklasifikasikan pula secara luas menurut bentuk kepemilikan. Berikut adalah klasifikasi utama dari kepemilikan ritel, yaitu :
1. Pendirian toko tunggal atau mandiri
Ritel tunggal atau mandiri adalah ritel yang dimiliki seseorang atau kemitraan dan tidak dioperasikan sebagai bagian dari lembaga ritel yang lebih besar.
            2. Rangkaian perusahaan
Ritel yang dimiliki dan dioperasikan sebagai satu kelompok oleh sebuah organisasi. Berdasarkan bentuk kepemilikan ini, banyak tugas administrative ditangani oleh kantor pusat untuk keseluruhan rantai.
            3. Waralaba
Ritel yang dimiliki dan dioperasikan oleh individu tetapi memperoleh lisensi dari organisasi pendukung yang lebih besar. Waralaba (franchise) menggabungkan keuntungan-keuntungan dari organisasi rantai toko.


1.4 PELUANG BISNIS RITEL DI INDONESIA
            Bisnis ritel di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat pada beberapa tahun akhir in, dengan berbagai macam format serta isinya. Investasi perusahaan rite lasing ke Indonesia dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : (1) kemitraan system waralaba seperti Body Shop, JC penny, Mark and spencer, (2) kerja sama operasi, seperti Sogo dan Seibu, dan (3) kemitraan bersama pengusaha kecil (joint venture). Secara makro, perkembangan industri ritel tidak terlepas dari pengaruh tiga faktor utama, yaitu 1) ekonomi 2) demografi dan 3) sosial budaya.
            1. Faktor ekonomi
Faktor ekonomi yang menunjang pertumbuhan industri ritel terutama adalah pendapatan per kapita penduduk Indonesia.
            2. Demografi
Faktor kedua yaitu demografi. Demografi adalah peningkatan jumlah penduduk di Indonesia
            3. Sosial budaya
Faktor ketiga adalah faktor sosial budaya seperti terjainta perubahan gaya hidup dan kebiasaan berbelanja. Konsumen saat ini menginginkan tempat berbelanja yang aman, lokasinya mudah dicapai, ragam barang yang bervariasi dan sekaligus dapat digunakan sebagai tempat rekreasi.