KLIK gambar untuk menutup Iklan

Showing posts with label AKUNTANSI KEUANGAN : Dasar-Dasar Perilaku Biaya : Tetap. Show all posts
Showing posts with label AKUNTANSI KEUANGAN : Dasar-Dasar Perilaku Biaya : Tetap. Show all posts

Wednesday, September 30, 2015

ANALISIS FAKTOR

ANALISIS FAKTOR

Analisis faktor adalah salah satu analisis interdependence techniques. Analisis ini digunakan untuk mereduksi/meringkas sejumlah (banyak) variabel yang  bersifat independen menjadi satu atau beberapa kumpulan variabel  yang disebut faktor.
Misalnya seorang peneliti  ingin mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi para nasabah menabung uangnya di sebuah bank. Untuk itu dianbil nasabah sebanyak n (n ³ 50) sebagai sampel acak, yang kemudian diminta pendapatnya (melalui daftar pertanyaan), tentang beberapa variabel/atribut (yang berupa hasil penelitian, yang mempengaruhi para nasabah untuk menabung di bank) yaitu: 1) suku bunga, 2) pelayanan teller, 3) pelayanan satpam, 4) kecepatan pelayanan, 5) keramahan pelayanan, 6) tempat parker yang luas, 7) parkir yang aman. 8) lokasi bank, 9) image bank, 10) kemudahan penarikan uang, 11) Kenyamanan ruang tunggu. Dari 11 variabel yang terindentifikasi tersebut, variabel-variabel yang “mirip” dapat dikelompokkan menjadi satu, sehingga kesebelas variabel tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok variabel. Kelompok ini disebut faktor. Misalnya saja hasil analisis faktor menunjukkan bahwa kesebelas variabel tersebut dapat diringkas/direduksi menjadi tiga faktor dengan kelompok variabel masing-masing sebagai berikut:

Faktor 1
Faktor 2
Faktor 3
Pelayanan teller
Lokasi bank
Suku bunga
Pelayanan satpam
Luas tempat parkir
Image bank
Kecepatan pelayanan
Keamanan tempat parkir
Kemudahan penarikan uang
Keramahan pelayanan
Kenyamanan ruang tunggu


Salah satu contoh pertanyaan yang berupa kalimat pernyataan adalah sebagai berikut:

                                                Tempat parkirr Luas

     1                                                                                              5
 


     Sangat tidak setuju                                                           Sangat setuju



Nasabah (responden) memberi tanda silang (x) di sembarang tempat  pada garis  antara  angka 1 dan 5, yang akan di ukur oleh peneliti sebagai jawaban dari responden (dalam bentuk angka). Jawaban responden dalam bentuk angka inilah yng akan di olah lebih lanjut.

Secara umum, tahapan proses analisis faktor adalah sebagai berikut:

1) Identifikasi Variabel
     Variabel yang akan dianalisis dengan analisis faktor hendaknya berdasarkan teori yang ada  atau penelitian terdahulu  atau justifikasi penelitian yang telah ada

2)    Menilai variabel yang layak untuk dianalisis dengan analisis faktor
Variabel yang memiliki korelasi yang cukup tinggi satu dengan lainnya cenderung akan mengelompok, variabel semacam itu  layak dan dapat dianlisis lebih lanjut. Sebaliknya yang korelasinya rendah akan dikeluarkan dari analisis faktor. Uji yang dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan satu atau beberapa variabel dapat dianalisis lebih lanjut dengan analisis faktor adalah MSA (measure of sampling adequacy) atau Barlett’s test. Sejumlah variabel yang memiliki nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,5 layak  diuji dengan analisis faktor, nilai ini dapat dilihat pada Tabel KMO (Kaeser-Meyer-Olkin) and Bartlett’s Test.

Selanjutnya variabel yang dapat dianalisis lebih lanjut adalah variabel yang memiliki nilai MSA lebih besar dari 0,5. Sedangkan variabel yang nilai MSA lebih kecil dari 0,5 dikeluarkan/tidak ikut dianalisis dan pengujian diulang. Jika terdapat beberapa variabel yang nilai MSA kurang dari 0,5, maka variabel yang nilai MSA-nya paling kecil terlebih dahulu dikeluarkan. Pengulangan pengujian terus dilakukan apabila masih terdapat variabel yang nilai MSA-nya lebih kecil dari 0,5. Pengujian baru dihentikan, bila nilai MSA semua variabel nilainya di atas 0,5. Nilai masing-masing variabel ini dapat dilihat pada tabel Anti-image Matrices bagian bawah yaitu pada bagian Anti-image Corelation (yaitu bilangan  bertanda”a” yang membentuk diagonal dari  kiri atas  ke kanan bawah)

3) Proses reduksi
     Beberapa variabel yang terpilih pada tahap 1 selanjutnya direduksi atau diringkas menjadi beberapa kelompok variabel yang disebut faktor.

4)    Proses rotasi
Jika terdapat isi faktor yang meragukan  yaitu sebuah variabel masih diragukan kelompoknya apakah masuk pada kelompok satu atau lainnya, perlu dilakukan proses rotasi. Proses rotasi ini bertujuan   untuk memperjelas kedudukan variabel dalam kelompok variabel (faktor), atau menjadikan faktor satu dengan faktor lainnya berbeda secara nyata.

5)  Menamakan faktor
Pemberian nama kepada  masing-masing faktor yang terbentuk sifatnya sangat subyektif, namun sebaiknya nama tersebut mewakili seluruh atau sebagian besar variabel pembentuk faktor. Penamaan faktor dapat juga digunakan nama variabel pembentuk faktor yang memiliki nilai (absolut) loading terbesar.

6) Validasi hasil analisis

Untuk mengetahui atau mendeteksi apakah faktor yang telah terbentuk sudah fit atau tidak, dapat dilihat dari reproduce correlation. Perbedaan antara korelasi awal dengan reproduce correlation  disebut residu. Jika dalam residu mengandung banyak nilai yang besar, menunjukkan model faktor tidak fit.

Tuesday, April 14, 2015

AUDITING - PENGUJIAN SUBSTANTIF

AUDITING -  PENGUJIAN SUBSTANTIF
            Pengujian substantif merupakan langkah ketiga dari tahap pelaksanaan pemeriksaan.  Pengujian substantive meliputi prosedur- prosedur audit yang diracang untuk mendeteksi monetary errors atau salah saji yang secara langsung berprngaruh terhadap kewajaran saldo – saldo laporan keuangn. .     
Jenis pengjian substantive :
aPengujian  atas transkasi
b.     Prosedur analitis
c.      Pengujian terperinci atas saldo

a.      Pengujian atas transaksi
            Penguian atas transaksi (substantive test of transaction) meliputi prosedur – prosedur audit ntuk pengujian kecermatan pencatatan transaksi. Tujuan dilakukannya pengujian atas transaksi adalah untuk menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah terotorisasi dengan pantas, dicatat, dan diikhtisarkan dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku pembantu dangan benar.
            Untuk menentukan apakah semua transaksi telah memenuhi tujuan audit untuk transaksi:
-        Esixtence
-        Completeness
-        Accuracy
-        Classification
-        Timing
-        Posting and summarizing
            Jika auditor percaya bahwa transaksi di catat dengan benar dalam jurnal dan diposting dengan benar, maka auditor akan percaya bahwa total buku besar adalah benar.
Pengujian detail transaksi ini dilakukan untuk menentukan :
a.      Ketepatan otorisasi transaksi akuntansi
b.     Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi dalam jurnal
c.      Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi dalam buku besar dan buku pembantu.
Metodologi Perancangan Program Audit untuk Pengujian atas Transaksi.
Program audit pengujian atas transaksi, biasanya mencakup :
-        Bagaimana penjelasan yang mendokumentasikan pemahaman yang diperoleh mengenai struktur pengendalian intern.
-        Gambaran prosedur yang dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern
-        Rencana tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan
            Baik prosedur yang di jalankan maupu risiko pengendalian yang direncanakan akan mempengaruhi program audit pengujian atas pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi.
            Metodologi untuk merancang pengujian atas pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi:
a.      Melaksanaka prosedur untuk memehami srtuktur pengendalian intern
b.     Menetapkan risiko pengendalian
c.      Mengevaluasi biaya dan manfaaat dari pengujian atas pengendalian
d.     Merancang pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk memenuhi tujuan audit berkaitan transaksi
- Prosedur audit
- besar sempel
- pos / unsure yang dipilh
- saat pelaksanaan
            Prosedur audit pengujian atas transaksi akan mencakup baik pengujian atas pengendalian maupun pengujian substantive atas transaksi dan bervariasi tergantung kepada rencana risiko pengendalian yang di tetapkan.
            Jika pengendalian efektif dan risiko pengendalian yang direncanakan rendah, penekanaan akan banyak diberikan kepada pengujian atas pengendalian. Beberapa pengujian substantive atas transaksi juga akan ditekankan.
            Jika risiko pengendalian ditetapkan, maka hanya pengujian substantive atas transaksi yang akan digunakan. Prosedur yang dilakukan dalam memperoleh pemahaman pengendalian intern akan mempengaruhi pengujian atas pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi.
            Prosedur Audit yang dilakukan dalam Pengujian Detai Transaksi:
-        Tracing : pilih satu sempel sales invoice dan telusur ke sales journal
-        Vouching: pilih satu sempel transaksi yang di catat dalam sales journaldan telusur ke sales invoices.
-        Reperforming :periksa kercermatan perkaliandan penjumlahan pada sales invoice.
-        Inquiring : tanyakan pada klien  apakah ada transaksi- transaksi related parties.
            Pada pegujian detail transaksi, auditor mengarahkan pengujianya untuk memperoleh temuan mengenai ada tidaknya kesalahan yang bersifat moneter. Auditor tidak mengarahkan pengujian detail transaksi untuk memperoleh temuan tentang penyimpangan kebijakan dan prosedurpengendalian.
            Pengujian ini umunya leihanyak menyita waktu dibandingkan  prosedur analitis, oleh karenanya pengujian ini lebih banyak membutuhkan biaya dari pada prosedur anatilis.
b.     Prosedur Analitis
            prosedur analitis yang sering dilakuakan auditor adalah perhitungan rasio untuk membandingkan dengan rasio tahun lalu dan data lain yang berhubungan. tujuan penggunaan prosedur analitis adalah:
a.      Memahami bidang usaha klien
b.     Menetapkan kemampuan kelangdungan hidup entitas
c.      Indikasi timbulnya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan
d.     Menggurangi pengujian audit yang lebih rinci
            Efektifitas dan efisiensi prosedur analitis dalam mendeteksi kemungkinan terjadi salah saji material, tergantung pada factor:
1.     Sifat asersi
2.     Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksi suatu hubungan
3.     Tersedianya dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangakan harapan
4.     Ketepatan harapan
            Prosedur analaitias dilakukan pada tiga tahap audit yang berbeda, yaitu :
a.      Tahap perencanaan untuk membantu auditor menentukan bahan bukti lain yang di perlukan untuk memenuhi resiko audit yang di inginkan (disyaratkan)
b.     Selama pelaksanaan audit bersama- sama dengan pengujian atas transaksi dan pengujian terinci atas saldo (bebas pilih)
c.      Mendekati penyelesaian akhir audit sebagai pengujian kelayakan akhir (disyaratkan)

c.      pengujian terinci atas saldo
            pengujian terinci atas saldo memusatkan pada saldo akhit buku besar baik untuk akun neraca maupun labarugi, tetapi penekanan utama adalah pada neraca.
            Pengujian detail saldo akun yang direncaakan harus cukup memadai untuk memenuhi setiap tujuan spesifik audit dengan memuaskan. Metodologi perancangan pengujian detail saldo meliputi tahap – tahap sebagai berikut :
1.     Menetapkan materialitas dan resiko audit ynag dapat di terima dan resiko bawaan suatu akun. Setelah estimasi awal mengenai materialitas untuk audit secara keseluruhan dan mengalokasikan totalnyake saldo akun telah di putuskan auditor, salah saji yang dapat di toleransi di tentukan untuk masing- masng saldo yang signifikan. Salah saji yang ditoleransi makin rendah akan menyebabkan pengujian terinci atas saldo makin besar.
Resiko audit yang dapat diterima biasanya diputuskan untuk audit secara keseluruhan, daripada berdasarkan siklus. Pengecualian adalah kalau auditor yakin bahwa salah saji pada perkiraan tertentu seperti piutang lebih berpengaruh negative terhadap pemakai daripada salah saji yang sama dari perkiraan lain. Resiko bawaan ditetapkan dengan mengidentifikasi semua aspek historis, linkungan atau operasi klien yang mengindikasikan kemungkinan besar terjadi salah saji dalam tahun berjalan.
2.     Menetapkan resiko pengendalian untuk suatu siklus akuntansi
Pengendalian yang efektif akan mengurangi resiko pengendalian dan dengan demikian mengurangi barang bukti yang diperlukan untuk pengujian substantive atas transaksi dan pengujian terinci atas saldo. Pengendalian yang tidak memadai meningkatkan bahan bukti substantive yang dibutuhkan.
3.     Merancang pengujian pengendalian, transaksi dan prosuder analisis untuk suatu siklus akuntansi. Pengujian dirancang dengan ekspektasi bahwa hasil tertentu akan diperoleh hasil yang diperkirakan ini akan mempengaruhi rancangan pengujian terinci atas saldo.

4.     Merancang pengujian detail saldo untuk memenuhi setiap tujuan spesifik audit, pengujian terinci atas saldo yang direncanakan meliputi prosedur audit, besar sempel, pos garing miring unsure yang dipilih dan saat pengujian. Prosedur-prosedur harus dipilih dan dirancang bagi masing-masing perkiraan dan masing-masing tujuan audit dalam setiap perkiraan.

Monday, February 16, 2015

Kontroversi Nilai Tambah

Kontroversi Nilai Tambah


Nilai tambah yang diukur dan direpresentasikan di dalam indikator PDB tidaklah menggambarkan kondisi yang sesungguhnya dari aktivitas perekonomian nasional. Seperti diketahui, perekonomian di suatu negara terbagi menjadi sektor riil dan sektor keuangan. Disebut sektor riil (real sector) karena memiliki aktivitas yang nyata terlihat, baik proses dari aktivitasnya maupun transaksi keuangannya. Lain halnya dengan sektor keuangan yang tidak memiliki aktivitas yang nyata terlihat, kecuali hanya mengelola aliran keuangan untuk mendapatkan sejumlah nilai tambah tertentu.

Mereka yang bukan termasuk ke dalam sektor riil seperti perbankan, asuransi, perusahaan pembiayaan, aktivitas di lantai bursa, dan aktivitas di pasar keuangan atau valuta asing. Nilai tambah yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas tersebut dihitung berdasarkan laba operasionalnya. Misalnya untuk perbankan dilihat dari selisih suku bunga tabungan dan kredit, di pasar modal dilihat dari selisih spot harga saham, atau di pasar valuta asing melalui selisih mata uang antar negara.

Jika dilihat dari jumlah dalam satuan mata uang, maka sektor keuangan tentunya memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PDB. Lain halnya dengan sektor riil yang mendominasi kuantitas institusinya sebenarnya pula memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Faktanya pula, jika memang hanya berorientasi untuk mendorong pertumbuhan, maka cara yang paling praktis dilakukan dengan mendorong pertumbuhan di sektor keuangan. Secara teoritis, pertumbuhan di sektor keuangan dapat memberikan pengaruh ke aktivitas di sektor riil. Namun, hal itu masih dilihat pula seberapa kuat fundamental perekonomian nasional di suatu negara.

Realitanya, negara-negara yang mengandalkan orientasi kebijakannya di sektor keuangan justru yang paling banyak bermasalah paska krisis global 2008 lalu. Kita bisa melihat bagaimana negara-negara Uni Eropa mengalami kesulitan dalam pembayaran utang-utangnya. Hal ini dikarenakan imbas dari kebijakan mereka sendiri yang lebih berorientasi untuk mendorong perkembangan di sektor keuangan. Kondisi sebaliknya terjadi pada RRC yang lebih berorientasi untuk mendorong kinerja perekonomian di sektor riil. Tidak mengherankan dengan konsistensi yang kuat mampu menjadi negara dengan cadangan devisa paling besar di dunia.

Kontroversi PDB dan pertumbuhannya berdasarkan pengertian nilai tambah terletak pada kemungkinan bias orientasi antara sektor riil dan sektor keuangan. Bisa jadi dinamika pertumbuhan ekonomi berasal dari dinamika di sektor keuangan, bukan di sektor riil. Dalam kondisi tersebut, sektor keuangan lebih banyak mendominasi volatilitas pertumbuhan di mana sektor riil lebih banyak mengalami kelesuan ataupun stagnan. Sementara itu, suatu kebijakan ekonomi seharusnya berorientasi pada kepentingan rakyat banyak dan keseluruhannya. Jika hanya berorientasi pada sektor keuangan, itu berarti kebijakan ekonomi belum memiliki keberpihakan ke sektor riil.


ARTIKEL EKONOMI TERKAIT LAINNYA KLIK DISINI!!!

Wednesday, February 11, 2015

AKUNTANSI KEUANGAN : Dasar-Dasar Perilaku Biaya : Tetap, Variabel, Dan Campuran

1. Dasar-Dasar Perilaku Biaya : Tetap, Variabel, Dan Campuran
Perilaku biaya (cost behavior) adalah istilah umum untuk mendeskripsikan apakah biaya berubah seiring dengan perubahan keluaran. Dalam pembuatan laporan eksternal yang meliputi laporan laba rugi dan neraca, biaya-biaya yang disajikan diatur berdasarkan fungsi yaitu dimasukan dalam satu dari tiga kategori  berikut : produksi , biaya pemasaran, dan biaya administrasi. Namun pengaturan fungsi ini tidak cocok apabila digunakan untuk  membantu penganggaran, pengendalian dan pengambilan keputusan, loeh kareana itu kita perlu memahami pengaturan perilaku biaya.
Pada umumnya pola perilaku biaya diartikan sebagai hubungan antara total biaya dengan perubahan total perubahan volume biaya. Berdasarkan perilaku dalam hubungan dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :

1. Biaya Tetap
Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang dalam jumlah keseluruha tetap konstan dalam rentang yang relevan ketika tingkat keluaran aktivitas berubah. Biaya tetap merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan operasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu. Bessar biaya tetap dipengaruhi oleh kondisi perusahaan dalam jangka panjang, teknologi dan metode serta strategi manajemen. Biaya tetap dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Commited fixed cost. Commited fixed costs sebagian besar berupa biaya tetap yang timbul dari pemilikan pabrik, ekuipmen, dan orgainisasi pokok. Contoh commited fixed costs adalah biaya depresiasi, pajak bumi dan bangunan, sewa, asuransi dan gaji karyawan utama.
2) Discretionary fixed costs. Discretionary fixed costs merupakan biaya yang timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala yang secara langsung mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengena jumlah maksimum biaya yang dijinkan untuk dikeluarkan. Contoh biaya ini adalah biaya riset, biaya program latihan karyawan dan biaya konsultan.

2. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan, akan naik ketika keluaran naik dan akan turun ketika keluaran turun. Biaya bahan baku merupakan contoh biaya variabel yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi. Biaya variabel dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Engineered variable costs. Engineered costs adalah biaya yang memiliki hubungan tertentu dengan ukuran kegiatan dan merupakan biaya yang antara masukan dan keluaranya memiliki hubungan yang nyata. Contohnya adalah biaya bahan baku.
2) Discretionary variable costs.discretionary variable costs  merupakan biaya yang masukan dan keluaranya memiliki hubungan erat namun tidak nyata.

3. Biaya Campuran / Semivariabel
Biaya campuran adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan unsur variabel didalamnya. Unsur biaya yang tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan unsur variabel merupakan bagian dari biaya campuran yang dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan.

TERKAIT :