KLIK gambar untuk menutup Iklan

Showing posts with label ekonomi pariwisata. Show all posts
Showing posts with label ekonomi pariwisata. Show all posts

Tuesday, February 17, 2015

Pengembangan Pariwisata Alam yang Berwawasan Lingkungan

Pengembangan  Pariwisata Alam yang Berwawasan Lingkungan

Pengembangan pariwisata dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia yang sangat beragam tersebut adalah sesuai dengan amanat GBHN 1993. Pembangunan kepariwisataan pada pembangunan jangka pannjang II sekarag ini akan lebih diarahkan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat, menciptakan lapangan kerja serta mendorong kegiatan ekonomi yang terkait dengan pengembangan budaya bangsa dengan memanfaatkan keindahan dan kekayaan alam Indonesia yang beraneka ragam. Pengembangan wisata alam selain dapat meningkatkan devisa bagi Negara juga memberikan lapangan kerja baru dan memberikan penghasilan tambahan (insentif) bagi masyarakat disekitar lokasi objek wisata tersebut. Pada umumnya golongan masyarakat ini adalah masyarakat yang mempunyai penghasilan rendah karena terbatasnya sarana dan prasarana serta jenis pekerjaan yang dilakukan  (nana supriana 1997)
Kegiatan pariwisata menimbulkan dampak negative, baik terhadap objek wisata alam maupun lingkungan social budaya sekitar. Dampak negative terhadap alam biasanya terjadi karena perencanaan pengelolaan objek wisata alam yang kurang baik, misalnya perencanan yang tidak memperhatikan daya dukung liungkungan dan kurangnya kesadaran serta pendidikan masyarakat dan wisatawan terhadap kelestaraian lingkungan.
Dalam pengembangan pareiwisata alam, factor lingkungan hidup merupakan sumber daya utama yang dikembangkan dan dimanfaatkan untuk menarik wisatawan, yang dalam pemanfaatannya dituntut untuk  meningkatkian kesejahteraan masyarakat sekitar objek wisata alam. Dengan demikian, factor lingkungan hidup bagi objek dan daya tarik wisata pada sumber daya alam hutan merupakan salah satu modal utama dalam pengembangan  pariwisata alam. Lebih jauh lagi pariwisata dapat dikatakan bahwa produk pariwisata alam bukanlah hanya dalam bentuk pelayanan yang diberikan oleh industry pariwistaa tetapi juga suatu lingkungan alami yang menyeluruh. Oleh karena itu tidak berlebihan juga kalau dikatakan bahwa pengemnamhan pariwisata alam dikawasan pelestarianalam, kawasan suaka alam dan kawasan hutan lain diharapkan akan mampu menjadi alternative bagi keberhasilan pembangunan nasional (nana supriatna 1997).
Penyelenggaraan pengusahaan pariwiasata alam dilaksanakan dengan memperhatikan:
1.   Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
2.  Kemampuan untuk mendorong dan meningkatkan perkembangan kehidupan ekonomi social budaya
3.  Nilai-nilai agama, adat istiadat seta pandangan dan nilali nilai yang hidup dalam masyarakat
4.    Kelestarian budaya dan mutu lngkngan
5.    Keamanan dan ketertiban masyarakat

Pengaturan pengusahaan pariwisata berdasar kepada pembangunan dan pengemnbangan yang berwawasan lingkungan atau ramah terhadap lingkungan dengan ketentuan bahwa pemanfaatan hanya terbatas pada zona pemanfaatan di dalam taman nasional atau blok pemanfaatan tamana wisata alam dan tahura serta pemanfaatan terbatas pada kawasan konservasi lainnya. Pengembangan wisata  alam sebaiknya perlu mempertimbangkan aspek daya dukung lingkungan alam, binaan dan social baik dari segi potensial yang dap[at dimanfaatkan, maupun dari segi keterbatasan –keterbatasan aspek daya dukung lingkungan alam serta binaan tersebut. Proses ini merupakan suatu usaha dalam merealisasikan konsep pengembangan pariwisata alam yang berwawasan lingkungan  sebagai suatu bahan pemikiran dalam menyerasikan pembangunan pariwisata dengan konservasi sumber daya alam yang akan semakin kompleks dimasa yang akandatang.

ARTIKEL EKONOMI TERKAIT LAINNYA KLIK DISINI!!!







Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan

Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan
Banyak orang berpendapat bahwa industri pariwisata dengan sendirinya akan dilaksanakan dengan cara yang akrab lingkungan terhadap alam. Pendapat ini didasari pengandaian bahwa daya tarik wisata, antara lain menyangkut lingkungan yang bersih dan sehat sebagai persyaratan utama yang hampir menjadi kebutuhan yang sifatnya mutlak. Istilah “bersih dan sehat” harus dipahami, tidak saja terbatas dalam pengertiannya sebagai istilah biogeofisika, tetapi sebagai nalar sehat dan tujuan yang bersih dari pengelola kegiatan wisata didalam daerah pembangunan pariwisata (R. E. Soeriaatmadja 1997).

Dalam upaya memanfaatkan sumber daya alam selama pembangunan industri pariwisata, lingkngan hidup pasti berubah sebagai akibat sampingan dan dengan cara yang tidak direncanakan. Berbagai jenis perubahan lingkungan tersebut dapat terjadi dan timbul sebagai kejutan dalam bentuk dampak biogeografi yang berubah menjadi dampak lingkungan terhadap komunitas hayati dan masyarakat manusia. Jelas bahwa pengelolaan lingkungan dalam pembangunan pariwisata harus berupaya memasukkan dampak kegiatan yang positif terhadap lingkungan kedalam pembangunan pariwisata sebagai nilai tambah yang nyata. Namun demikian, perhatian juga harus secara khusus diberikan bagi upaya mencegah dan/ atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang dapat berpengaruh buruk terhadap pembangunan pariwisata dalam jelajah luas berbagaia akibat yang saling mempengaruhi, termasuk dampak sosial terhadap perilaku, sikap dan persepsi pengunjung terhapap kualitas lingkungan  beberapa objek (R. E. Soeriaatmadja 1997).

Secara strategik pembangunan pariwisata yang berwawasan lingkungan dapat diwaspadai dampaknya dengan memasukkan rencana manajemen dan pemantauan secara terpadu kemudian dalam tahap perancangan.
Potensi dampak pembangunan terhadap lingkungan sosial (R. E. Soeriaatmadja 1997)
1.   Potensi Dampak Positif terhadap Lingkungan Social
a.   Pertukaran dan pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan pengayaan sosial budaya
b.  Pilihan dan perubahan yang cerdas didalam kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya wisatawan maupun masyarakat tuan rumahnya sendiri
c.   Pengembangan citra sosial
d.   Pengenalan terhadap perilaku dan kegiatan sosial-ekonomi dan sosial budaya Negara tuan rumah
e.  Perbaikan dan pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Negara tuan rumah
f.   Perbaikan prasarana sosial dan hiburan dinegara tuan rumah
2.      Potensi Dampak Negatif terhadap Lingkungan Sosial
a.    Penurunan dan perusakan budaya tuan rumah
b.    Risiko terhadap kemantapan sosial
c.    Konsumerisme
d.    Hukum, keamanan dan ketertiban
e.    Hubungan sosial dan pilihannya
f.     Kesehatan
g.     Perubahan arti
h.     Dampak politik

Dampak Lingkungan: fisik (Melville C. Branch1995)
a.       Kimiawi, biologis, partikel, kelembaban
b.      Api, gempa, radiasi, ledakan
c.       Elektromagnetik
d.      Bunyi getaran
e.       Dll

Dampak Lingkungan: social, ekonomi, politik, lain-lain
a.       pelayanan pendidikan
b.      pelayanan social
c.       jumlah penduduk
d.      budaya
e.       dll

Lingkungan alam dapat digambarkan mencakup udara, tanah, cahaya matahari, iklim, flora dan fauna. Lingkungan binaan mencakup perkotaan, prasarana, ruang terbuka dan unsur  bentang kota. Lingkungan budaya mencakup nilai-nilai, kepercayaan, perilaku, kebiasaan, moral, seni, hukum, dan sejarah masyarakat. Lingkungan budaya juga dapat ditinjau dari dua tingkat yang berbeda, yaitu budaya tingkat “tinggi” seperti teater, gamelan, tarian istana dan sebagai budaya “rakyat” atau  budaya populer yang  dapat mencakup kesenian rakyat serta keenian populer, kontemporer, dan ungkapan budaya bangsa. Tipologi ini akan dimanfaatkan untuk menilai dampak potensial kegiatan pariwisata, meskipun hanya kerangka awal belum berkembang (Green & Hunter 1993).

ARTIKEL EKONOMI TERKAIT LAINNYA KLIK DISINI!!!







Perencanaan Pariwisata Yang Berwawasan Lingkungan Dalam Pembangunan Yang Berkelanjutan

Perencanaan Pariwisata Yang Berwawasan Lingkungan Dalam Pembangunan Yang Berkelanjutan 

Perencanaan pariwisata ini diharapkan agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui pemanfaatan yang lestari dari kondisi lingkungan yaitu potensi kawasan yang berupa, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa serta peninggalan budaya yang berada didalam dan disekitar kawasan tersebut. Dan perencanaan sendiri berarti menetapkan suatu tujuan dan memilih langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut (Robinson Tarigan 2005).
Sesuai dengan peraturan perundangan yang ada saat ini, pengembangan pariwisata alam tertuang dalam program-program pengembangan dikawasan hutan dan tidak terlepas dari tujuan pembangunan sub sektor Kehutanan yang meliputi konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan kesejahteraan spiritual dan material (Soemarsono 1996).
Konsep untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan mempunyai banyak cabang, yang terlacak dicabang yang bagus dan analysis terbaru pada genesis tersebut (Josef Leitman 1995).
Kondisi perkembangan pariwisata juga perlu mendapat perhatian dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rekreasi saat ini mulai menjadi kebutuhan masyarakat. Untuk mengantisipasi dampak yang timbul maka diperlukan pembenahan-pembenahan disegala bidang.
Perkembangan pariwisata berkembang secara pesat khususnya dalam skala yang lebih luas. Dan telah membawa dampak positif dan negatif. Demikian pula wisata kota sudah jauh lebih terorganisir secara tertib dan efektif.
Masalah perencanaan yang layak bagi pembangunan pariwisata saat ini memiliki mantra yang bersifat nasional dan internasional. Pada tingkat nasional, banyak Negara didunia ini telah mengenali pariwisata sebagai komponen utama untuk melanjutkan pembangunan ekonomi Negara dan mereka mencari jalan untuk meningkatkan keuntungan yang tampaknya dapat diharapkan dari pariwisata. Pada tingkat internasional, aliran wisatawan antar Negara merupakan bagian terbesar dari kegiatan pariwisata. Kegiatan pariwisata sangat bergantung kepada daya tarik sumber daya alamnya yang unik. Wisatawan datang untuk melihat dan menikmati pantai dan taman nasional dan hutan serta daerah lainnya yang relatif belum tercemar. Namun demikian, dibanyak tempat sumber daya alam tersebut terancam oleh wisatawan yang jumlahnya sangat besar. Beberapa tempat bahkan “dicintai sampai mati” (Myra P. Gunawan 1997).
Pada awal masa merdeka, “pariwisata” atau “turisme” diartikan sebagai hal yang berkaitan dengan kegiatan politik, pertemuan antara pemerintah Belanda dengan pemerintah Indonesia atau diantara pemimpin bangsa Indonesia atau sebagai kegiatan santai dan bersenang-senang yang bergengsi dan sangat sedikit orang yang mampu melakukannya (Myra P. Gunawan)

Pengertian Sistem Informasi Pariwisata

Pengertian Sistem Informasi Pariwisata

Pariwisata berbasis Sistem Informasi berarti adanya suatu manajemen sistem informasi kepariwisataan yang berbasis pengolahan data elektronik dimana keberadaan Sistem Informasi Manajemen Pariwisata ini dapat pula dibuat suatu sistem yang mendukung keputusan pariwisata. Dengan adanya sistem ini akan memudahkan wisatawan dalam menentukan rencana perjalanan wisatanya, selain itu bagi industri pariwisata dan bagi pemerintah, sistem informasi yang baik akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan.Banyak pariwisata dan data dinamis memerlukan sistem manajemen yang baik untuk menghindari tumpang tindih data, serta kesulitan dalam penyediaan data. Kendala seperti masalah biaya, sosial-budaya dan keamanan, harus diberikan kompensasi atas manfaat yang dapat dicapai. Layanan meliputi fasilitasi akses dari luar dapat meningkatkan jumlah wisatan dan manajemen sistem informasi, akurasi dari kedua keputusan akan meningkat. Dengan demikian, ketersediaan sistem informasi manajemen untuk pengelolaan pariwisata maupun penyebaran sistem informasi pariwisata yang dibutuhkan.
Data-data yang diperlukan dalam suatu perencanaan pariwisata, diantaranya:
1) Data Perencanaan Pengembangan
  • Pengembangan wilayah yang menjadi tujuan wisata dan kebijakannya
    • Karakteristik di daerah yang menjadi obyek wisata
   • Pesona alam, aksesibilitas, fasilitas, SDM, dan informasi obyek wisata
    • Segmen pasar
2) Data Wisatawan
    • Profil wisatawan
    • Jumlah pengunjung
    • Pendapatan devisa
    • Tinjauan geografis, demografis, psikografis, serta perilaku dari wisatawan
3) Data Industri Pariwisata
    • Hotel dan akomodasi.
    • Biro travel/perjalanan wisata (transportasi)
    • Jasa penjual makanan dan minuman
    • Jasa konsultan
4) Data Tujuan Pariwisata
    • Pesona alam, budaya, serta minat khusus
    • Fasilitas
    • Aksesibilitas
    • Lingkungan
    • Kebijakan dan regulasi
    • Manajemen destinasi
    • Komunikasi dan informasi
Perancangan model untuk Sistem Informasi Manajemen Pariwisata ini disesuaikan dengan kebutuhan pemakai. Model yang digunakan dalam sebuah sistem merupakan kombinasi antara perangkat keras dan perangkat lunak. Demikian halnya dengan sistem yang digunakan perangkat pemodelan dalam merepresentasikan dunia abstrak sistem. Pembuatan model dilakukan agar jika model yang dibuat salah, dapat dibuat kembali model yang lebih memenuhi kebutuhan pemakai tanpa resiko yang berarti bila dibandingkan dengan membuat sistem secara langsung. Komponen utama yang biasa digunakan penganalisa sistem ketika akan membuat pemodelan, yaitu:
• Memfokuskan perhatian pada  suatu sistem tanpa harus terlibat lebih jauh .
• Mendiskusikan perubahan serta mengoreksinya.


• Membangun sistem dan menganalisa sistem terhadap kebutuhan   pemakai dan membantu mendesain sistem.