KLIK gambar untuk menutup Iklan

Showing posts with label PENGAUDITAN. Show all posts
Showing posts with label PENGAUDITAN. Show all posts

Monday, April 13, 2015

AUDITING - HUBUNGAN ANTARA PENGUJIAN DAN BAHAN BUKTI

·         HUBUNGAN ANTARA PENGUJIAN DAN BAHAN BUKTI

Jenis-jenis pengujian biasanya diurutkan berdasarkan pada makin besarnya biaya yang diperlukan.
  • Prosedur analitis
  • Prosedur untuk memperoleh pemahaman atas SPI dan pengujian atas pengendalian
  • Pengujian substantif atas transaksi
  • Pengujian terinci atas saldo
Prosedur analitis merupakan prosedur yang paling murah karena relatif mudah untuk membuat perhitungan dan perbandingan. Pengujian atas pengendalian juga relatif murah karena dapat dilakukan dalam sejumlah besar pos atau unsur dalam beberapa menit.
Pengujian substantif lebih mahal karena seringkali diperlukan perhitungan kembali dan penelusuran. Pengujian terinci atas saldo paling mahal dibandingkan dengan pengujian yang lain karena dibutuhkan biaya untuk mengirim konfirmasi dan melakukan penelusuran.
Biaya untuk masing-masing bahan bukti bervariasi dalam berbagai situasi.
·         Hubungan antara Pengujian Atas Pengendalian dan Pengujian Substantif.
    Kekecualian dalam pengujian atas pengendalian hanya indikasi kemungkinan kekeliruan atau ketidakberesan yang mempengaruhi nilai rupiah L/K, sedangkan kekecualian dalam pengujian substantif adalah salah saji L/K.
Deviasi pengujian pengendalian yang cukup sering menyebabkan auditor percaya terdapat salah saji dalam rupiah yang material dalam L/K. Pengujian substantif biasanya dilakukan untuk menentukan apakah salah saji dalam rupiah terjadi secara aktual. Penyimpangan antara Pengujian atas Pengendalian dan Pengujian Substantif.
    Auditor dapat membuat keputusan saat perencanaan, apakah akan menetapkan risiko pengendalian dibawah maksimum. Jika risiko pengendalian yang ditetapkan dibawah maksimum, risiko penemuan yang direncanakan dalam model risiko audit ditingkatkan sehingga pengujian substantif yang direncanakan dapat dikurangi.

·         MERANCANG PROGRAM AUDIT
  1. Pengujian Atas Transaksi
Mencakup bagian penjelasan yang mendokumentasikan pemahaman yang diperoleh mengenai SPI dengan memasukkan gambaran prosedur yang akan dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman atas SPI dan rencana tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan.
Prosedur audit pengujian atas transaksi akan mencakup pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi dan bervariasi tergantung pada rencana risiko pengendalian yang ditetapkan.
Diperlukan empat langkah dalam mengurangi tingkat risiko yang ditetapkan
  • terapkan tujuan pengendalian intern rinci kepada kelompok transaksi yang diuji.
  • Identifikasi kebijakan dan prosedur pengendalian spesifik yang akan mengurangi risiko pengendalian untuk masing-masing tujuan pengendalian intern.
  • Untuk masing-masing kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang mana pengurangan risiko pengendalian dihubungkan, kembangkan pengujian atas pengendalian yang pantas
  • Bagi jenis kekeliruan dan ketidakberesan sehubungan dengan tiap pengendalian intern, rancang pengujian substantif atas transaksi yang tepat.
2.      Prosedur Analitis
Dilakukan pada tiga tahap audit yang berbeda:
  • Tahap perencanaan, untuk menentukan bahan bukti lain yang diperlukan untuk memenuhi risiko audit yang diinginkan
  • Pelaksanaan audit, bersama-sama dengan pengujian atas transaksi dan pengujian atas saldo
  • Menjelang penyelesaian akhir audit sebagai pengujian kelayakan akhir.
3.Pengujian Terinci Atas Saldo
Langkah-langkah dalam perancangan pengujian terinci atas saldo adalah:
  1. Tentukan materialitas dan tetapkan risiko audit yang dapat diterima dan risiko bawaan
  2. Tetapkan risiko pengendalian
  3. Rancang dan perkirakan hasil pengujian atas transaksi dan prosedur analitis
  4. Rancang pengujian terinci atas saldo untuk memenuhi tujuan spesifik audit
Kesulitan yang dihadapi auditor dalam merancang pengujian terinci atas saldo adalah kebutuhan untuk memperkirakan hasil dari pengujian atas transaksi dan prosedur analitis sebelum pengujian tersebut dilaksanakan.
Hubungan Tujuan Audit antara Transaksi dengan Saldo
Tujuan Audit Transaksi 
Tujuan Audit Saldo  
Sifat Dari Hubungan 
- Keabsahan
- Otorisasi
- Kelengkapan
- Penilaian
- Klasifikasi
- Saat Pelaksanaan
- Posting dan Pengikhtisaran
- Keabsahan atau Kelengkapan
- Kepemilikan
- Kelengkapan atau Keabsahan
- Penilaian
- Klasifikasi
- Pisah Batas
- Akurasi Mekanis
Pengungkapan
Hak dan Kewajiban
Penyajian dan Pengungkapan 
- Langsung
- Tidak langsung
- Langsung
- Sebagian
- Sebagian
- Langsung
- Langsung
- Tidak ada
- Tidak ada
- Tidak ada 

·         IKHTISAR PROSES AUDIT
TAHAP I    : PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENDEKATAN AUDIT
Perencanaan awal, mendapatkan informasi mengenai latar belakang, mendapatkan informasi tentang kewajiban hukum klien, menentukan materialitas dan menetapkan risiko audit yang dapat diterima dan risiko bawaan, memahami struktur pengendalian intern dan menetapkan risiko pengendalian, mengembangkan rencana dan program audit menyeluruh.
TAHAP II    : PENGUJIAN ATAS PENGENDALIAN DAN TRANSAKSI
Merencanakan untuk mengurangi tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan, melakukan pengujian pengendalian, melakukan pengujian substantif atas transaksi, menetapkan kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan.
TAHAP III    : MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS DAN PENGUJIAN TERINCI ATAS SALDO
Melakukan prosedur analitis, melakukan pengujian pos-pos kunci, melakukan pengujian saldo tambahan
 TAHAP IV    : PENYELESAIAN AUDIT

AUDITING - STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN

STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN

  1. 1.      Arti Pentingnya Struktur Pengendalian Intern
Arti pentingnya struktur pengendalian intern (SPI) bagi manajemen dan auditor independen sudah lama diakui dalam profesi akuntasi, dan pengakuan tersbut semakin meluas dengan alasan :
  • Semakin luas lingkup dan ukuran perusahaan mengakibatkan di dalam banyak hal manajemen tidak dapat melakukan pengendalian secara langsung atau secara pribadi terhadap jalannya operasi perusahaan. Manajemen hanya harus mempercayai berbagai laporan dan hasil analisis mengenai keefektifan operasinya. Sedangkan tanggung jawab yang utama untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan dan untuk mencegah kesalahan-kesalahan dan ketidakberesan terletak di tangan manajemen.
  • Pengecekan dan review yang melekat pada system pengendalian intern yang baik akan dapat melindungi dari kelemahan manusia dan mengurangi kemungkinan kekeliruan dan penyimpangan yang akan terjadi.
  • Di lain pihak, adalah tidak praktis bagi auditor untuk melakukan pengauditan secara menyeluruh atau secara detail untuk hamper semua transaksi perusahaan di dalam waktu dan biaya yang terbatas.
Oleh karena itu bagi manajemen mempertahankan terus adanya struktur pengendalian intern (SPI) termasuk struktur pelaporan yang baik adalah sangat diperlukan agar dapat melepaskan, menyerahkan atau mendelegasikan wewenang dan tanggung jawabnya dengan tepat.
Untuk Artikel yang Lebih lengkap Klik Disini
  1. 2.      Pengertian Struktur Pengendalian Intern
Pengertian Struktur Pengendalian Intern menurut Mulyadi adalah  “Pengendalian Intern meliputi struktur organisasi metode dan prosedur yang dikoordinasikan dan diterapkan dalam perusahaan dengan tujuan untuk mengamankan harta milik perusahaan, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansinya, mendorong efisiensi, dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sedangkan menurut Bodnar and Hopwood, Struktur Pengendalian Intern adalah “kebijakan dan prosedur untuk menyediakan jaminan yang memadai bahwa tujuan perusahaan dapat dicapai.”
Secara umum, Pengendalian Intern merupakan bagian dari masing-masing sistem yang dipergunakan sebagai prosedur dan pedoman pelaksanaan operasional perusahaan atau organisasi tertentu.
Sedangkan Sistem Pengendalian Intern merupakan kumpulan dari pengendalian intern yang terintegrasi, berhubungan dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
Di lingkungan perusahaan, pengendalian intern didifinisikan sebagai suatu proses yang diberlakukan oleh pimpinan (dewan direksi) dan management secara keseluruhan, dirancang untuk memberi suatu keyakinan akan tercapainya tujuan perusahaan yang secara umum dibagi kedalam tiga kategori, yaitu :
a)      Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan
b)      Pelaporan Keuangan yang handal
c)      Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang diberlakukan
Suatu pengendalian intern bisa dikatakan efektif apabila ketiga kategori tujuan perusahaan tersebut dapat dicapai, yaitu dengan kondisi :
Untuk Artikel yang Lebih lengkap Klik Disini
  1. Direksi dan manajemen mendapat pemahan akan arah pencapain tujuan perusahaan, dengan, meliputi pencapaian tujuan atau target perusahaan, termasuk juga kinerja, tingkat profitabilitas, dan keamanan sumberdaya (asset) perusahaan.
  2. Laporan Kuangan yang dipublikasikan adalah handal dan dapat dipercaya, yang meliputi laporan segmen maupun interim.
  3. Prosedur dan peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan sudah ditaati dan dipatuhi dengan semestinya.
  1. 3.    Unsur   Struktur Pengendalian Intern
Sruktur pengendalian intern terdiri dari 5 (lima) komponen, yaitu :
(1)     Lingkungan Pengendalian
Merupakan dasar dari komponen pengendalian yang lain yang secara umum dapat memberikan acuan disiplin. Meliputi : Integritas, Nilai Etika, Kompetensi personil perusahaan, Falsafah Manajemen dan gaya operasional, cara manajemen di dalam mendelegasikan tugas dan tanggung jawab, mengatur dan mengembangkan personil, serta, arahan yang diberikan oleh dewan direksi.
Kunci lingkungan pengendalian adalah:
  • Integritas dan Etika
  • Komitmen terhadap Kompetensi
  • Struktur Organisasi
  • Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab
  • Praktik dan Kebijakan Sumber Daya Manusia yang Baik
(2)     Penilaian Resiko
Identifikasi dan analisa atas resiko yang relevan terhadap pencapaian tujuan yaitu mengenai penentuan “bagaimana resiko dinilai untuk kemudian dikelola”. Komponen ini hendaknya mengidentifikasi resiko baik internal maupun eksternal untuk kemudian dinilai. Sebelum melakukan penilain resiko, tujuan atau target hendaknya ditentukan terlebih dahulu dan dikaitkan sesuai dengan level-levelnya.
Langkah-langkah dalam penaksiran risiko adalah sebagai berikut:
  • Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi risiko
  • Menaksir risiko yang berpengaruh cukup signifikan
  • Menentukan tindakan yang dilakukan untuk me-manage risiko
(3)     Aktivitas Pengendalian
Kebijakan dan prosedur yang dapat membantu mengarahkan manajemen hendaknya dilaksanakan. Aktivitas pengendalian hendaknya dilaksanakan dengan menembus semua level dan semua fungsi yang ada di perusahaan.
Aktivitas pengendalian meliputi:
  • Pemisahan fungsi/tugas/wewenang yang cukup
  • Otorisasi traksaksi dan aktivitas lainnya yang sesuai
  • Pendokumentasiaan dan pencatatan yang cukup
  • Pengendalian secara fisik terhadap aset dan catatan
  • Evaluasi secara independen atas kinerja
  • Pengendalian terhadap pemrosesan informasi
  • Pembatasan akses terhadap sumberdaya dan catatan
(4)     Informasi dan Komunikasi
Menampung kebutuhan perusahaan di dalam mengidentifikasi, mengambil, dan mengkomukasikan informasi-informasi kepada pihak yang tepat agar mereka mampu melaksanakan tanggung jawab mereka. Di dalam perusahaan (organisasi), Sistem informasi merupakan kunci dari komponen pengendalian ini. Informasi internal maupun kejadian eksternal, aktifitas, dan kondisi maupun prasyarat hendaknya dikomunikasikan agar manajemen memperoleh informasi mengenai keputusan-keputusan bisnis yang harus diambil, dan untuk tujuan pelaporan eksternal.
(5)   Pengawasan
Pengendalian intern seharusnya diawasi oleh manajemen dan personil di dalam perusahaan. Ini merupakan kerangka kerja yang diasosiasikan dengan fungsi internal audit di dalam perusahaan (organisasi), juga dipandang sebagai pengawasan seperti aktifitas umum manajemen dan aktivitas supervise. Adalah penting bahwa defisiensi pengendalian intern hendaknya dilaporkan ke atas. Dan pemborosan yang serius seharusnya dilaporkan kepada manajemen puncak dan dewan direksi, hal ini meliputi :
  • Mengevaluasi temuan-temuan, reviu, rekomendasi audit secara tepat.
  • Menentukan tindakan yang tepat untuk menanggapi temuan dan rekomendasi dari audit dan reviu.
  • Menyelesaikan dalam waktu yang telah ditentukan tindakan yang digunakan untuk menindaklanjuti rekomendasi yang menjadi perhatian manajemen.
Kelima komponen ini terkait satu dengan yang lainnya, sehingga dapat memberikan kinerja sistem yang terintegrasi yang dapat merespon perubahan kondisi secara dinamis. Sistem Pengendalian Internal terjalin dengan aktifitas opersional perusahaan, dana akan lebih efektif apabila pengendalian dibangun ke dalam infrastruktur perusahaan, untuk kemudian menjadi bagian yang paling esensial dari perusahaan (organisasi).

  1. 4.      Pemahaman Struktur Pengendalian Intern
Langkah pertaman dalam metodologi untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan, yang kedua adalah memperoleh pemahaman SPI untuk perencanaan audit. Untuk tujuan perencanaan audit, pemahaman yang harus diperoleh meliputi:
  1. Perencanaan (design) kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan masing-masing elemen struktur pengendalian
  2. Penerapan dalam operasi atau kegiatan perusahaan sehari-hari.
Pemahaman struktur pengendalian intern akan digunakan oleh auditor untuk :
  1. Identifikasi type atau jenis salah saji yang potensial
  2. Mempertimbangkan factor-faktor yang mempengaruhi resiko salah saji yang material
  3. Merancang pengujian subtantif
Prosedur pemahaman pengendalian intern dalam arti penilaian secara kritis terhadap kelemahan dan kebaikan struktur pengendalian intern yang berlaku dapat dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut :
1)      Melakukan review pendahuluan atau memahami pengendalian intern yang diterapkan manajemen, serta menentukan potensi dapat dipercayanya pengendalian intern tersebut
2)      Mendokomentasi hasil pemahaman
3)      Melakukan pengamatan transaksi secara sepintas
4)      Identifikasi dapat tidaknya pengendalian tersebut diandalkan atau dipercaya
5)      Menentukan pengaruh SPI terhadap pengujian subtantif
Sifat, saat dan luasnya prosedur yang dipilih auditor untuk memperoleh pemahaman akan bervariasi dengan ukuran dan kompleksitas entitas, pengalaman sebelumnya dengan entitas, sifat pengendalian khusus yang terkait, dan sifat dokumentasi pengendalian khusus yang diselenggarakan oleh entitas. Apakah suatu pengendalian telah dioperasikan adalah berbeda dari efektivitas operasinya. Dalam memperoleh pengetahuan tentang apakah pengendalian telah dioperasikan, auditor menentukan bahwa entitas telah menggunakannya. Di lain pihak, efektivitas operasi, berkaitan dengan bagaimana pengendalian tersebut diterapkan, konsistensi penerapannya, dan oleh siapa pengendalian tersebut diterapkan.
1.5 hubungan SPI dengan prosedur audit lainya
. Pada prosedur audit  ini, auditor harus memusatkan perhatian pada rancangan dan operasi dari aspek-aspek SPI sampai seluas yang diperlukan untuk dapat merencanakan audit dengan efektif. Lima jenis prosedur audit yang berhubungan dengan pemahaman auditor atas SPI, yaitu
  1. Pengalaman auditor pada periode sebelumnya terhadap satuan usaha tersebut.
  2. Tanya jawab dengan pegawai perusahaan
  3. Pemeriksaan pedoman kebijakan dan prosedur.
  4. Inspeksi atas dokumen dan catatan.
  5. Pengamatan aktivitas dan operasi satuan usaha tersebut. 

·         Pengujian atas Pengendalian

      Penggunaan utama atas pemahaman SPI adalah untuk menetapkan risiko pengendalian relatif terhadap berbagai tujuan pengendalian intern yang ada. Auditor dapat menetapkan risiko pengendalian pada tingkat yang mencerminkan evaluasi atas SPI klien , tetapi harus dibatasi sampai tingkat yang didukung oleh bahan bukti yang diperoleh.
    Pengujian atas pengendalian diarahkan pada efektivitas pengendalian yang mencakup jenis bahan bukti sbb :
  • Tanya jawab dengan pegawai klien
  • Inspeksi dokumen dan catatan
  • Pengamatan penerapan kebijakan dan prosedur spesifik
  • Pelaksanaan ulang oleh auditor terhadap penerapan kebijakan dan prosedur spesifik
Perbedaan dengan prosedur untuk memperoleh pemahaman atas SPI adalah bahwa dengan pengujian atas pengendalian, tujuan menjadi lebih spesifik dan pengujian menjadi lebih ekstensif.
    Jika auditor memutuskan untuk menetapkan risiko pengendalian dibawah tingkat maksimum untuk satu tujuan pengendalian intern tertentu, maka prosedur satu dapat digabung dengan prosedur dua.

·         Pengujian Substantif atas Transaksi

Pengujian substantif adalah prosedur yang dirancang untuk menguji kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung mempengaruhi kebenaran saldo L/K Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan apakah transaksi pembukuan klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diikhtisarkan dalam jurnal dengan benar dan dipindahbukukan ke buku besar dan buku tambahan dengan benar.
·         Prosedur analitis
    Prosedur analitis mencakup perbandingan jumlah yang dicatat dengan perkiraan yang dikembangkan oleh auditor. Prosedur analitis ini sering berupa perhitungan rasio oleh auditor untuk dibandingkan dengan rasio tahun lalu dan data lain yang berhubungan.
Tujuan penggunaan prosedur analitis :
  1. Memperoleh pemahaman atas bidang usaha klien.
  2. Menetapkan kemampuan kelangsungan hidup suatu satuan usaha.
  3. Indikasi timbulnya kemungkinan kekeliruan dalam L/K.
  4. Mengurangi pengujian audit yang lebih rinci.

·         Pengujian Terinci atas Saldo

    Pengujian ini menitikberatkan pada saldo akhir buku besar untuk Neraca maupun rugi laba dengan penekanan utama pada Neraca. Merupakan pengujian yang penting karena bahan bukti diperoleh dari sumber yang independen dari klien sehingga berkualitas tinggi.

AUDITING - Bukti Audit

Tujuan Bukti Audit

Adapun tujuan bukti audit (Anonim : 2012) yaitu :
a.      Membantu membuat keputusan tentang penilaian risiko dengan mempertimbangkan salah saji berupa potensial yang akan mungkin terjadi.
Penilaian risiko audit adalah proses rekursif penelusuran bukti untuk menentukan keyakinan dan menilai keaslian dan kebenaran bukti audit guna mendukung penerbitan opini. Risiko audit merupakan salah satu yang menjadi perhatian auditor dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab profesionalnya dan kemungkinan adanya risiko audit. Risiko audit dapat ditimbulkan dari tingkat penemuan yang direncanakan dalam menghadapi irregularities, misalnya related party transaction (transaksi perusahaan induk dan anak atau transaksi antar keluarga); client misstate (klien melakukan penyimpangan; kualitas komunikasi (klien tidak kooperatif); initial audit (klien baru pertama kali audit); klien bermasalah (Anonim : 2011).

b.      Membantu menentukan prosedur audit yang cocok dengan asersi dan penilaian resiko.
Asersi sangat penting karena membantu auditor dalam memahami bagaimana laporan keuangan mungkin disalah sajikan dan menuntun auditor dalam mengumpulkan bukti (Anonim :2009).

B.       Manfaat Bukti Audit
Mengidentifikasi jenis dan sumber bukti audit merupakan langkah awal yang baik san sangat menentukan tingkat ekonomi, efisiensi dan efektivitas audit yang dilakukan. Dengan demikian, auditor harus mengidentifikasi secara jelas sifat, mutu, dan jumlah bukti audit yang akan dikumpulkan. Adapun manfaat bukti audit (Agung Rai : 2008) adalah sebagai berikut :
1.     Bukti akan digunakan untuk mendukung temuan, simpulan, dan rekomendasi audit. Mutu simpulan dan rekomendasi audit sangat bergantung pada bukti audit ini.

2.      Bukti-bukti audit mempunyai peran yang sangat penting terhadap keberhasilan pelaksanaan audit. Oleh karena itu, bukti-bukti audit harus mendapatkan perhatian auditor sejak tahap perencanaan audit sampai dengan akhir proses audit.


C.      Jenis-Jenis Bukti Audit
Bukti audit dapat dikelompokkan ke dalam 9 jenis bukti. Berikut ini dikemukakan kesembilan jenis bukti tersebut:


1.      Struktur Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur pengendalian intern merupakan indikator utama yang menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya.

2.      Bukti Fisik
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang paling objektif dalam menentukan kualitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling dapat dipercaya.

Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi penghitungan, dan observasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti fisik sangat tinggi. Bukti fisk berkaitan erat dengan keberadaan atau kejadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.


3.      Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data untuk membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan akuntansi merupakan obyek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini bukan berarti catatan akuntansi merupakan obyek audit. Obyek audit adalah laporan keuangan. Tingkat dapat dipercayanya catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya struktur pengendalian intern.



4.      Konfirmasi
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi langsung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang unsur tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya.Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu:
a.       Konfirmasi positif
b.      Blank confirmation
c.       Konfirmasi negatif


Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada pemeriksaan:
a.       Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien.
b.      Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan.
c.       Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini dikonfirmasikan ke penjaga atau kepala gudang.
d.      Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor

.

5.      Bukti Dokumenter
Bukti dokumenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit. Menurut sumber dan tingkat kepercayaannya bukti, bukti dokumenter dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.       Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor secara langsung
b.      Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor melalui klien
c.       Bukti dokumenter yang dibuat dan disimpan oleh klien


Bukti dokumenter kelompok a mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripadakelompok b. Bukti dokumenter kelompok b mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok c.
Bukti dokumenter meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening koran bank (bank statement), dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti dokumenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen. Bukti dokumenter banyak digunakan secara luas dalam auditing. Bukti dokumenter dapat memberikan bukti yang dapat dipercaya (reliable) untuk semua asersi.



6.      Bukti Surat Pernyataan Tertulis
Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani seorang individu yang bertanggung jawab dan berpengetahuan mengenai rekening, kondisi, atau kejadian tertentu. Bukti surat pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen atau organisasi klien maupun dari dari sumber eksternal termasuk bukti dari spesialis. Representation letter atau representasi tertulis yang dibuat manajemen merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan hukum, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga. Bukti ini dapat menghasilkan bukti yang reliable untuk semua asersi.




7.      Perhitungan Kembali sebagai Bukti Matematis
Bukti matematis diperoleh auditor melalui perhitungan kembali oleh auditor. Penghitungan yang dilakukan auditor merupakan bukti audit yang bersifat kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien. Perhitungan tersebut misalnya:
a.       Footing untuk meneliti penjumlahan vertikal
b.      Cross-footing untuk meneliti penjumlahan horizontal
c.       Perhitungan depresiasi
Bukti matematis dapat diperoleh dari tugas rutin seperti penjumlahan total saldo, dan perhitungan kembali yang rumit seperti penghitungan kembali anuitas obligasi. Bukti matematis menghasilkan bukti yang handal untuk asersi penilaian atau pengalokasian dengan biaya murah.

8.      Bukti Lisan
Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia, sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lisan. Masalah yang ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat maupun piutang yang sudah lama tak tertagih. Jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan merupaka bukti lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit. Bukti ini dapat menghasilkan bukti yang berkaitan dengan semua asersi.

9.      Bukti Analitis dan Perbandingan
Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan anggaran atau standar prestasi, trend industri, dan kondisi ekonomi umum. Bukti analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam laporan keuangan dan kewajaran hubungan antar pos-pos dalam laporan keuangan. Keandalan bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data pembanding. Bukti analitis berkaitan erat dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian.
Bukti analitis meliputi juga perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun sebelumnya. Perbandingan in dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi dan untuk menilai penyebabnya. Bukti-bukti ini dikumpulkan pada awal audit untuk menentukan obyek pemeriksaaan yang memerlukan pemeriksaan yang lebih mendalam.

Menurut Konrath ada 6 tipe bukti audit, yaitu:
  1. Physical evidence : terdiri dari segala sesuatu yang bisa dihitung, dipelihara, diobservasi, atau diinspeksi, dan terutama mendukung tujuan eksistensi atau keberadaan. Contohnya adalah bukti-bikti phisik yang diperoleh dari kas opname, observasi fisik dari perhitungan persediaan, pemeriksaan fisik surat berharga dan inventarisasi aktiva tetap.
  2. Evidence obtain through confirmation : bukti yang diperoleh mengenai eksistensi, kepemilikan atau penilaian, langsung dari pihak ketiga diluar klien. Contohnya jawaban konfirmasi piutang, utang, barang konsinyasi, surat berharga yang disimpan biro adminisrtrasi.
  3. Documentary evidence : terdiri dari catatan-catatan akuntansi dan seluruh dokumen pendukung transaksi. Contohnya faktur pembelian, copy faktur penjualan, journal voucher, general lerger, dan sub lerger.
  4. Mathematical evidence : merupakan perhitungan kembali dan rekonsiliasi yang dilakukan auditor. Misalnya footing, cross footing, dan extension dari rincian persediaan perhitungan dan alokasi beban penyusutan, perhitungan beban bunga, laba/rugi penarikan aktiva tetap, PPh dan accruals.
  5. Analytical evidence bukti yang diperoleh melalui penelaahan analitis terhadap informasi keuangan klien. Prosedur analitis bisa dilakukan dalam bentuk:
         1.     Trend (horizontal) analysis, yaitu membandingkan angka-angka laporan keuangan tahun berjalan dengan tahun-tahun sebelumnya dan menyelidiki kenaikan/penurunan yang signifikan baik dalam jumlah rupiah maupun persentase.
2.     Common Size (vertical) Analysis
3.    Ratio Analysis, misalnya menghitung menghitung ratio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio leverage, dan rasio manajemen aset.
  1. Hearsay evidence : bukti dalam bentuk jawaban lisan dari klien atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan auditor. Misalnya pertanyaan-pertanyaan auditor mengenai pengendalian intern, ada tidaknya contigen liabilities, persediaan yang bergerak lambat atau rusak, kejadian penting sesudah tanggal neraca dan lain-lain.
Berdasarkan fungsinya, bukti audit dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan bukti, yaitu :
  a.  Bukti Utama (Promary Evidence), yaitu bukti yang dapat menghasilkan kepastian yang paling kuat atas fakta, misalnya : dikumen asli mengenai perjanjian/komitmen/kontrak yang ditandatangani.
  b.  Bukti Tambahan (Secondary Evidence), yaitu bukti yang dapat diterima bila bukti utama ternyata hilang atau rusak, atau dapat pula diterima bila dapat ditunjukan bahwa bukti ini merupakan pencerminan yang layak atas bukti utama, misalnya : tembusan dokumen kontrak.
c.   Bukti Langsung (Direct Evidence), yaitu bukti yang menunjukkan fakta tanpa kesimpulan ataupun anggapan. Bukti ini cenderung untuk menunjukkan fakta atau materi yang dipersoalkan tanpa melibatkan bukti lain. Suatu bukti dapat dikatakan sebagai bukti langsung bila dikuatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai pengetahuan nyata mengenai persoalan yang bersangkutan dengan menyaksikan sendiri.
d.    Bukti Tidak Langsung (Circumtantial Evidence), yaitu bukti yang cenderung untuk menetapkan suatu fakta dengan pembuktian fakta lain yang setaraf dengan fakta utama, misalnya : penerimaan barang yang diselesaikan terlalu singkat oleh Bagian Penerimaan dapat menunjukkan bukti tidak langsung bahwa petugas penerimaan tidak memeriksa/menghitung penerimaan, atau memeriksa/ menghitungnya tetapi tidak cermat.
e.  Bukti Pendukung (Corraborative Evidence), yaitu merupakan bukti tambahan dari suatu karakter yang berbeda tetapi digunakan untuk tujuan yang sama, misalnya : Pernyataan bahwa dokumen yang diserahkan kepada auditor merupakan foto copy yang benar dan tidak dimanupulasi.